Menulislah! Maka sejarah akan mencatat, mengingat dan mengenangmu...

hadisrisejarahkwd.blogspot.com

Minggu, 10 Maret 2013

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI KELAS XI IPA SMA NEGERI I KWADUNGAN TAHUN AJARAN 2012/2013


OLEH
Dra.HADI SRI SUHARTI ERNANINGSIH
NIP : 19680526 199802 2 004
DIBIAYAI  OLEH
SWADAYA MANDIRI


SMA NEGERI  1  KWADUNGAN
TAHUN 2012





HALAMAN PENGESAHAN
USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)


1.      Judul Penelitian                       :   UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH  MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD   DI KELAS XI IPA  SMA NEGERI I KWADUNGAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013
2.      Penelitian                             : 
a.       Nama Lengkap               :  Dra. HADI SRI SUHARTI ERNANINGSIH
b.      Jenis Kelamin                 :  Perempuan
c.       Pangkat/Gol                   :  Pembina  / IV A
d.      N I P                              :  19680526 199802 2 004
e.       Mata Pelajaran               :  Sejarah
f.       Sekolah                          :  SMA NEGERI 1 KWADUNGAN  NAGWI

3.      Lama Penelitian                   :  3 ( Tiga) Bulan
                                                Mulai : Bulan Agustus  s/d  Oktober  2012


                                                                            Ngawi,    Nopember   2012
Mengetahui:                                                                      
Kepala SMAN 1 Kwadungan                             Peneliti,


Drs.SUWARTOYO. M.Pd                                Dra,HADI SRI SUHARTI.E
NIP.19570721 198403 1 003                               N I P. 19680526 199802 2 004


ABSTRAKSI

Ernaningsih,H.S.S. 2012. UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH  MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD   DI KELAS XI IPA  SMA NEGERI I KWADUNGAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Kata Kunci : Hasil Belajar,Belajar Kooperatif,STAD,Sejarah SMA

  Berdasarkan data hasil belajar sejarah siswa dapat diketahui bahwa kwalitas proses dan hasil pembelajaran yang terjadi di SMA N I Kwadungan masih rendah.Hal ini dapat diamati dari nilai rata – rata semester 1 tahun pelajaran 2012/2013 dari 30 siswa 12 siswa tuntas setelah melalui proses remidial, hal yang hampir sama juga tetrjadi pada tahun – tahun sebelumnya. Hal ini dapat mengindikasi bahwa siswa klas XI IPA mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran Sejarah,Disamping itu juga kami sadari bahwa metode pembelajaran yang diterapkan selama ini masih didominasi oleh penggunaan metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal ( 3DCH ) Sehingga kegiatan pembelajaran menjadi monoton ,sebagian besar siswa pasif,minat belajar sejarah rendah,pembelajaran hanya berpusat di guru,padahal materi yang harus dipelajari sangat luas dengan alokasi waktu yang sangat sedikit ( 1jam/minggu).Berdasar pada permasalahan tersebut disepakati bahwa pemecahan masalah akan dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menigkatkan kwalitas proses dan hasil belajar sejarah pada siswa klas XI IPA melalui penggunaan metode belajar kooperatif tipe STAD.
Penelitian ini menggunakan rancangan peneitian tindakan kelas yang terdiri dua siklus.Pada masing – masing siklus terdiri 4 tahap : perencanaan,pelaksanaan tindakan,pengamatan , refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA I SMA N I Kwadungan sebanyak 30 siswa.Perencanaan tindakan dilaksankan bulan Januari 2012 , pelaksanaan tindakan dilaksankan bulan Oktober-Nopember 2012,penyusunan laporan bulan Oktober-Nopember 2012
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada KD merekonstruksi perkembangan masyarakat Indonesia sejak proklamasi hingga demokrasi terpimpin di kelas XI IPA I SMA N I Kwadungan dapat : (1) Meningkatkan hasil belajar sejarah,dibuktikan dengan ketuntasan hasil belajar siswa yang meningkat pada akkhir sikklus II. (2) Meningkatkan kwalitas proses belajar yang nampak dari keaktifan siswa dalam proses pembelajaran,berupa keaktifan siswa bertanya ketika guru menjelaskan materi,keaktifan menjawab pertayaan guru,keaktifan dalam dikusi kelompok dan kelas. (3) Menurut siswa : penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat menarik dan menyenangkan karena memberi kesempatan kepada mereka menyampaikan idenya (4) faktor penghambat yang dirasakan dalam penggunaan metode ini adalah masalah pengelolaan waktu.



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Fungsi Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (UU No. 20 th. 2003 pasal 3). Dalam GBHN 1988 dinyatakan peranan pendidikan nasional yang kaitannya dengan sejarah yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras. Selain itu yang perlu digaris bawahi adalah bahwa pendidikan nasional harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta tanah air (nasionalisme) dan mempertebal semangat kebangsaan (patriotisme).
                
Berdasar ketentuan kurikulum 2004 ,Pengajaran sejarah di sekolah bertujuan agar siswa memperoleh kemampuan berpikir historis dan pemahaman sejarah. Mampu mengembangkan kompetensi untuk berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses
perkembangan dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya
dalam rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengahtengah
kehidupan masyarakat dunia. Agar siswa menyadari adanya keragaman pengalaman hidup pada masing-masing masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda
terhadap masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun pengetahuan serta pemahaman untuk menghadapi masa yang akan datang.
 Pada tingkat SMA dan MA pelajaran Sejarah bertujuan:
  • Mendorong siswa berpikir kritis-analitis dalam memanfaatkan
  • pengetahuan tentang masa lampau untuk memahami kehidupan
  • masa kini dan yang akan datang.
  • Memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari kehidupan seharihari.
  • Mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk memahami proses perubahan dan keberlanjutan masyarakat.
Suatu pernyataan yang sangat fenomenal dari Presiden Sukarno bahwa ”bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai sejarah perjuangan bangsanya”. Ungkapan yang begitu bijaksana  mengandung pengertian yang sangat mendalam ini menunjukkkan begitu pentingnya peranan pelajaran sejarah.

Kenyataan yang dijumpai di lapangan menunjukkan proses pembelajaran sejarah jauh dari harapan tersebut ditandai dengan rendahnya motivasi siswa untuk belajar sejarah, siswa sangat sulit diajak berinteraksi di dalam proses pembelajaran,siswa menunjukkan sikap diam dan pasif . puncaknya hasil akhir dari proses pembelajaran sangat jauh dari harapan ,hampir di setiap ulangan harian kebanyakan siswa memperoleh nilai di bawah standart ketuntasan minimal.
Kenyataan di atas disebabkan antara lain:
a.       Pembelajaran guru masih konvensional, yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal ( 3DCH ) Sehingga Kegiatan Belajar Mengajar ( KBM ) menjadi monoton dan kurang menarik perhatian siswa.  Guru terpancang pada doktrin patent bahwa pembelajaran sejarah tidak terlepas dari 4 W + 1 H ( why, when, where, who dan how) sehingga sering kali guru hanya membeberkan urutan waktu, tokoh dan peristiwa belaka.Akibatnya pelajaran sejarah dirasakan siswa hanyalah mengulangi hal-hal yang sama dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat sekolah menengah atas.  Tidak mengherankan di pihak guru sering timbul kesan bahwa mengajar sejarah itu mudah. Akibatnya nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah tidak dapat dipahami dan diamalkan peserta didik (Soewarso 2000:1-2). Hal serupa juga dikatakan Suharya (2007:1) dalam www.duniaguru.com, yang menyebutkan bahwa pelajaran IPS, khususnya sejarah sering disebut sebagai pelajaran hafalan dan membosankan. Pelajaran ini tidak lebih dari rangkaian angka tahun dan urutan peristiwa yang harus diingat kemudian diungkap kembali saat menjawab soal ujian, akibatnya pelajaran sejarah kurang diminati oleh siswa.  
b.      Sarana yang mendukung proses belajar mengajar yaitu buku paket, buku pegangan siswa dan buku penunjang lainnya  sangat terbatas .
c.       Materi masa lampau yang sangat luas meliputi seluruh aspek kehidupan penting manusia di seluruh dunia.
d.      Ketidakseimbangan jumlah jam tatap muka dengan materi yang ada ( untuk XI IPA hanya 1 jam pelajaran / miggu dengan m ateri dari masa Hindu Budha sampai awal orde baru ).
e.       Sejarah adalah ilmu sosial ,di kelas jurusan IPA selalu dipandang sebelah mata sebagai mata pelajaran kelas dua setelah eksakta
f.       Budaya belajar yang sangat rendah pada sebagian besar siswa.
Kurikulum dewasa ini (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) menuntut guru untuk mengubah pola-pola pembelajarannya, yang semula berpusat pada guru, menjadi pembelajaran yang berfokus pada aktifitas siswa. Kurikulum juga menuntut perubahan peran siswa dari kebiasaannya sebagai pendengar pasif dan menunggu perintah guru untuk melakukan sesuatu menjadi siswa yang aktif, kreatif dan mampu berinisiatif serta mampu bersosialisasi antar sesamanya. Dengan demikian kegiatan pembelajaran yang berlangsung tidak menimbulkan kejenuhan kepada siswa akan tetapi dapat meningkatkan motivasi belajar dan semangat  siswa, yang berakibat pada meningkatnya pemahaman siswa terhadap bidang studi sejarah sesuai dengan hasil yang diharapkan.
           
Atas dasar uraian tersebut kami mencoba untuk mengangkat masalah pemilihan model pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas dengan mengambil judul :UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH  MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD   DI KELAS XI IPA I SMA NEGERI I KWADUNGAN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

B.     PERUMUSAN   MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas ditetapkan rumusan masalah      
Rumusan masalah diatas dirinci sebagai berikut :
1.      Apakah pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran sejarah di Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kwadungan  Tahun Pelajaran  2012/2013?
2.      Apakah pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kwadungan  Tahun Pelajaran  2012/2013?


C.     PEMECAHAN  MASALAH
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka alternative cara pemecahan sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan pemahaman siswa pada mata pelajaran  Sejarah melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan memperbaiki strategi pembelajaran.
2.      Untuk mengetahui ada tidaknya  peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah, melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan melakukan observasi, lalu merancang evaluasi, situasi belajar dengan pembentukan kelompok-kelompok belajar.


D.    TUJUAN  PENELITIAN
Tujuan penelitian ini untuk memperbaiki berbagai masalah yang                   timbul dalam pembelajaran Sejarah di kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Kwadungan  Tahun Pelajaran  2012/2013.
        Adapun tujuan secara rinci sebagai berikut :  untuk mengetahui sejauh mana model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di Kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Kwadungan  Tahun Pelajaran  2012/2013?

E.     MANFAAT  HASIL  PENELITIAN
Hasil penelitian diharapkan dapat memberi manfaat  bagi :
1.      Bagi siswa :
·         Membantu siswa mencapai kompentensi diri dalam menuntaskan materi pembelajaran sejarah
·         Membantu siswa meningkatkan hasil belajar  dalam pembelajaran sejarah
·         Membantu siswa memahami konsep, kejadian, peristiwa, fakta, data dan interprestasi serta kebenaran sejarah.
·         Mengoptimalkan potensi diri yang dimiliki siswa.
·         Semakin termotivasi untuk meningkatkan pemahaman mata pelajaran Sejarah.

2.      Bagi Guru :
·         Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman tentang penelitan tindakan kelas.
·         Mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan secara komprehensif dengan berbagai pendekatan dan penilaian.
·         Menemukan inovasi pembelajaran yang  akan memberikan perbaikan dan peningkatan.
·         Menumbuhkan budaya meneliti dan menulis.
·         Memotivasi untuk selalu exsplorasi dalam teknik, metode dan model pembelajaran yang kreatif serta inovatif dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa

3.      Bagi Sekolah :
·         Merupakan sumbangan pemikiran untuk peningkatan dan pengembangan  sekolah.





















BAB  II
KAJIAN  TEORI  DAN  PUSTAKA

Dalam penerapan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD  diharapkan  para guru  memiliki pemahaman yang sama terhadap metode tersebut dalam membantu proses belajar. Oleh karena itu perlu memahami:
1.      Hakekat belajar
a.    Hakekat belajar
Dalam Kamus umum Bahasa Indonesia, Belajar berarti usaha (terlatih) supaya mendapatkam suatu kepandaian. Menurut Soemadi Suryabrata (1993) Belajar mengandung tiga pengertia, yaitu belajar itu membawa perubahan, perubahan itu pada pokoknya didapatkan kecakapan baru, dan perubahan itu terjadi karena usaha sadar.
Belajar merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh siswa untuk mencapai tujuan. Selanjutnya Sukirin (1984) mengatakan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang disengaja untuk merubah tingkah laku sehingga diperoleh kecakapan baru.
      James Witaker dalam Sumanto, 1998 belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Jadi dalam proses pembelajaran diharapkan siswa mendapat pengetahuan dan pengalaman baru.
Dengan demikian jelaslah bahwa belajar itu merupakan aktivitas yang bertujuan menjadi bisa atau mampu dengan berbagai proses aktif serta usaha yang disengaja.
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.
b.    Hasil belajar
Hasil  belajar tidak akan lepas dari siswa yang sedang belajar. Siswa yang sedang belajar pasti ingin memperoleh hasil  belajar yang baik. Terlebih lagi dalam lingkungan sekolah, Hasil  belajar adalah yang selalu ada dalam dunia pendidikan. Dengan adanya Hasil  belajar, guru dapat menilai kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran yang diajarkan. Jika hasil  belajar anak baik, maka anggapan pertama terhadap anak tersebut adalah dapat menyerap pelajaran dengan baik.
             Beberapa definisi berkaitan dengan pengertian hasil belajar :
·         Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Depdikbud:1994) definisi hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu usaha, pendapatan atau perolehan.
·         “Hasil  belajar adalah hasil yang dicapai setelah seseorang melakukan usaha”(Daryanto dalam Ferry, 2003:12).
·         “Hasil  belajar adalah suatu nilai yang menunjukkan hasil tertinggi dalam belajar yang dapat dicapai menurut kemampuan seseorang dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu”(Djamarah,dalam Ferry,  2003:12).
·         Satu definisi lagi yang perlu dikemukakan disini yaitu “Hasil  belajar adalah hasil terakhir yang dicapai sebaik-baiknya dalam jangka waktu tertentu di sekolah”.(Muhibbin, Ferry 2003:12).
Jadi Hasil  belajar adalah hasil terakhir dalam belajar yang berupa nilai dalam jangka waktu tertentu. Hasil  belajar siswa perlu diketahui supaya dapat diketahui pula mutu keberhasilan pada diri siswa tersebut.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi hasil  belajar menurut Sudjana (dalam Ferry, 2003:12), dibagi menjadi dua :
·         Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa, misalnya sikap siswa, kemampuan individu, minat dan fisik maupun psikis siswa.
·         Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, misalnya guru yang mengajar, sarana dan prasarana, lingkungan sekolah, perlakuan pembelajaran terhadap siswa dan lain sebagainya.
.

2.      Pengajaran Sejarah
            Sesuai dengan ketentuan  kurikulum 2004
a.       Pengertian sejarah : adalah mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia dari masa lampau hingga kini.

b.      Tujuan dan Fungsi Mata Pelajaran Sejarah
Tujuan
Pengajaran sejarah di sekolah bertujuan agar siswa memperoleh
kemampuan berpikir historis dan pemahaman sejarah. Melalui
pengajaran sejarah siswa mampu mengembangkan kompetensi untuk
berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa
lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses
perkembangan dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya
dalam rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengahtengah
kehidupan masyarakat dunia. Pengajaran sejarah juga bertujuan
agar siswa menyadari adanya keragaman pengalaman hidup pada
masing-masing masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda
terhadap masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun
pengetahuan serta pemahaman untuk menghadapi masa yang akan
datang.
 Pada tingkat SMA dan MA pelajaran Sejarah bertujuan:
• Mendorong siswa berpikir kritis-analitis dalam memanfaatkan
pengetahuan tentang masa lampau untuk memahami kehidupan
masa kini dan yang akan datang.
• Memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari kehidupan seharihari.
• Mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk
memahami proses perubahan dan keberlanjutan masyarakat.
Fungsi
Pengajaran sejarah berfungsi untuk menyadarkan siswa akan adanya
proses perubahan dan perkembangan masyarakat dalam dimensi waktu
dan untuk membangun perspektif serta kesadaran sejarah dalam
menemukan, memahami, dan menjelaskan jati diri bangsa di masa lalu,
masa kini, dan masa depan di tengah-tengah perubahan dunia.

c.       Ruang Lingkup
Ruang lingkup materi pengajaran sejarah di SMA dan MA disusun berdasarkan urutan kronologis yang dijabarkan dalam aspek-aspek tertentu sebagai materi standar. Sejak tahun kedua, di samping materi tertentu yang diberikan pada semua program studi sebagai pengetahuan bersama, sebagian materi pokok disusun sesuai dengan  pengkhususan program studi.
Materi pokok pengajaran sejarah di SMA dan MA meliputi:
  1. Pengantar Ilmu Sejarah.
  2. Kehidupan paling awal masyarakat di Indonesia.
  3. Naik turunnya pengaruh tradisi Hindu-Buddha di Indonesia.
  4. Perkembangan awal tradisi Islam di Indonesia.
  5. Perkembangan pengaruh Barat dan perubahan masyarakat di
  6. Indonesia pada masa kolonial.
  7. Muncul dan berkembangnya pergerakan nasional Indonesia.
  8. Interaksi Indonesia-Jepang dan keadaan Indonesia pada masa
  9. pendudukan Jepang.
  10. Perkembangan Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
  11. Perubahan di Indonesia di tengah usaha mengisi kemerdekaan.
  12. Jatuhnya Orde Baru dan reformasi.
  13. Perkembangan dunia internasional setelah Perang Dunia II dan pengaruhnya terhadap Indonesia.
  14. Peristiwa mutakhir dunia dan globalisasi.
  15. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

G. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sejarah
1. Kompetensi Kurikulum Sejarah
Terdapat delapan kompetensi umum dalam kurikulum sejarah, yaitu:
a.       Mampu menghubungkan keterkaitan antara manusia, waktu,tempat, dan kejadian sejarah.
b.      Mampu membangun konsep waktu, urutan waktu, dan menggunakannya dalam menentukan sebab-akibat suatu kejadian dan menilai perubahan dan keberlanjutan.
c.       Mampu menunjukkan peran tokoh politik, sosial, budaya,agama, ekonomi, teknologi, dan ilmu dalam menentukan bentuk dan arah suatu kelompok sosial, masyarakat, bangsa, dan dunia.
d.      Mampu menentukan asal usul suatu adat, hari besar nasional,perayaan lainnya, dan bangunan bersejarah, memelihara dan mengembangkannya.
e.       Mampu menarik informasi dan berpikir kritis-analitis tentang informasi yang diperoleh dari sumber sejarah dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
f.       Mampu memahami karakteristik berbagai peristiwa penting dalam sejarah lokal,daerah, nasional, dan internasional serta memanfaatkannya untuk mengkaji berbagai masalah kehidupan pribadi, masyarakat, dan bangsa.
g.      Membangun semangat kebangsaan yang positif, kebersamaan sebagai bangsa dan semangat persaingan yang positif dalam lingkungan kebangsaan dan antarbangsa.
h.      Mampu bertindak secara demokratis dan menghargai berbagai perbedaan serta keragaman sosial, kultural, agama, etnis, dan ideologis dalam masyarakat.
2. Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Sejarah di SMA dan MA
Kompetensi yang diwujudkan melalui mata pelajaran Sejarah di
tingkat SMA dan MA adalah:
  1. Mampu mengklasifikasi perkembangan masyarakat untuk menjelaskan proses keberlanjutan dan perubahan dari waktu ke waktu.
  2. Mampu memahami, menganalisis, dan menjelaskan berbagai aspek kehidupan seperti ilmu pengetahuan dan teknologi,lingkungan hidup, ekonomi, politik, sosial dan budaya sertapengaruhnya terhadap masyarakat di Indonesia dan dunia dari waktu ke waktu.
  3. Mampu mengidentifikasi, memahami, dan menjelaskan keragaman dalam sejarah masyarakat di Indonesia dan dunia serta perubahannya dalam konteks waktu.
  4. Mampu menemukan dan mengklasifikasi berbagai sumber sejarah dan adanya keragaman analisis serta interpretasi terhadap
  5. fakta tentang masa lalu yang digunakan untuk merekonstruksi dan mendeskripsikan peristiwa serta objek sejarah.
  6. Menyadari arti penting masa lampau untuk memahami kekinian dan membuat keputusan.

3. Pembelajaran
a.       Hakekat Pembelajaran
Pembelajarn merupakan strategi belajar yang berusaha mengembangkan seluruh potensi peserta didik dari aspek kognitif, efektif dan psikomor.

b.      Model Pembelajaran
Model pembelajarn adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum dan lain-lain ( Joyce, 1992;4)
Selanjutnya Joyce mengatakan bahwa setiap model pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
Adapaun Sukamto dkk mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman dalam merancang pembelajaran dalam aktifitas belajar mengajar, hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar.
.

c.Pembelajaran Koperatif
Ada beberapa definisi pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh ahli pendidikan. Menurut Slavin (1995:5): Cooperative learning methods share the idea that students works together to learn and are responsible for their teammates learning as well as their own.
Definisi menurut Slavin ini dapat diartikan bahwa metode  pembelajaran kooperatif adalah saling bertukar pikiran/ide diantara pelajar yang terlibat untuk belajar dan bertanggungjawab terhadap hasil belajar anggota lainnya sebagaimana terhadap dirinya sendiri. Selain itu, Artzt dan Newman (dalam As’ari, 2000:1) mengemukakan bahwa cooperative learning is an approach that involves a small group of learners working together as a team to solve a problem, complete a task, or accomplish a common goal. Pembelajaran kooperatif adalah suatu pendekatan yang melibatkan suatu kelompok kecil siswa yang bekerja bersama sebagai satu tim untuk menyelesaikan suatu permasalahan, menyelesaikan tugas, ataupun menyelesaikan / menyempurnakan tujuan umum. Menurut Johnson (dalam Supriyadi, 1995:56) metode pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama, yakni kerja sama antar siswa dalam kelompoknya untuk mencapai tujuan belajar..
Dengan demikian, dari beberapa definisi di atas dapat dikemukakan bahwa metode pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang berorientasi pada siswa untuk melaksanakan suatu kegiatan bersama dalam kelompok-kelompok kecil(antara 3 sampai 5 orang) yang memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam hal ini setiap anggota kelompok bertanggungjawab terhadap keberhasilan diri dan anggota lainnya. Oleh karena itu setiap anggota harus saling bekerjasama dan saling membantu dalam memahami bahan pelajaran sehingga setiap anggota kelompok akan mencapai potensi optimal yang mungkin diraihnya.
Menurut Lundgren (dalam Ratumanan, 2002:109) unsur-unsur dasar yang perlu ditanamkan kepada siswa agar pembelajaran kooperatif dapat lebih efektif adalah sebagai berikut:
a.                  Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam” atau “berenang” bersama.
b.                  Para siswa memiliki tanggungjawab terhadap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggungjawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c.                  Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
d.                 Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggungjawab sama besarnya diantara para anggota kelompok.
e.                  Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f.                   Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.
g.                  Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Arends (dalam Ratumanan, 2002:110) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan yaitu:
a.                   Prestasi akademik
Belajar kooperatif sangat menguntungkan baik bagi siswa yang berkemampuan rendah maupun yang berkemampuan tinggi. Siswa berkemampuan tinggi dapat menjadi tutor bagi siswa yang berkemampuan rendah dan juga dapat menambah pengetahuannya. Sedangkan bagi siswa yang berkemampuan rendah dapat meningkatkan motivasi belajarnya sehingga nanti akan meningkatkan prestasi belajar siswa. 
b.                  Penerimaan akan keanekaragaman
  Belajar kooperatif menyajikan peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi sosial, untuk bekerja dan saling bergantung pada tugas-tugas rutin, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif dapat belajar menghargai satu sama lain.
            Jadi belajar kooperatif bertujuan mengajarkan pada siswa keterampilan-keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Dan ini adalah keterampilan-keterampilan yang penting yang harus dipunyai dalam suatu masyarakat.
d. Koperatif Tipe Student Teams-Achievement Division  (STAD)
Model pembelajaran Tipe STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya dari Universitas John Hopkins dipandang sebagai yang paling sederhana dan paling langsung di antara pembelajaran kooperatif yang lain. .STAD terdiri dari lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, kerja tim, kuis, skor perbaikan individu dan penghargaan tim.
1.      Presentasi Kelas
Bahan ajar mula-mula diperkenalkan dalam suatu presentasi kelas. Presentasi ini paling sering menggunakan pengajaran langsung atau ceramah diskusi yang dilakukan oleh guru, namun dapat meliputi presentasi audio-visual atau kegiatan penemuan kelompok. Pada kegiatan ini siswa bekerja untuk menemukan informasi atau mempelajari konsep-konsep atas upaya mereka sendiri sebelum pengajaran guru. Presentasi kelas dalam STAD harus memfokus pada unit STAD tersebut. Dengan cara ini siswa menyadari bahwa mereka harus memperhatikan presentasi kelas, karena dengan begitu akan membantu mereka mengerjakan kuis dengan baik, dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka.
2.      Kerja Tim
Tim tersusun dari empat atau lima siswa yang mewakili heterogenitas kelas dalam kinerja akademik, jenis kelamin maupun suku. Fungsi utama tim adalah menyiapkan anggotanya berhasil menghadapi kuis. Setelah presentasi bahan ajar, tim berkumpul untuk mempelajari LKS atau bahan yang lain. Kerja tim merupakan ciri terpenting STAD. Pada setiap saat penekanan diberikan pada anggota tim agar melakukan yang terbaik untuk timnya, dan pada tim agar melakukan yang terbaik untuk membantu anggotanya. Tim tersebut menyediakan dukungan teman sebaya untuk kinerja akademik yang memiliki pengaruh berarti pada pembelajaran, menunjukkan saling peduli dan hormat yang memiliki pengaruh berarti bagi hasil belajar, seperti hubungan antar kelompok, harga diri dan penerimaan terhadap kebanyakan siswa.

3.      K u i s
Setelah satu sampai dua periode presentasi guru dan latihan tim, siswa dikenai kuis individual. Siswa tidak dibenarkan saling membantu selama kuis tersebut. Ini menjamin agar siswa secara individual bertanggung jawab untuk memahami bahan ajar.

4.      Skor Perbaikan Individu
Setiap siswa dapat menyumbang poin maksimum kepada timnya, namun tidak seorang siswa pun dapat melakukan seperti itu tanpa menunjukkan perbaikan atas kinerja masa lalu. Setiap siswa diberikan suatu skor dasar, yang dihitung dari kinerja rata-rata siswa pada kuis serupa sebelumnya. Kemudian siswa memperoleh poin untuk tim mereka didasarkan pada berapa banyak skor kuis mereka melampaui skor dasar mereka.
5.      Penghargaan Tim
Tim dapat memperoleh penghargaan apabila skor rata-rata mereka melampaui suatu kriteria tertentu.
Hasil penelitian Rumansyah (2002) menyimpulkan bahwa dengan pembelajaran tipe STAD aktifitas siswa meningkat, pengelolaan KBM oleh guru berjalan dengan baik, keterampilan kooperatif siswa meningkat, dan siswa menjadi lebih senang dalam belajar Matematika
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan rasa kebersamaan dalam mencapai hasil belajar yang optimal dalam kelompoknya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar