Menulislah! Maka sejarah akan mencatat, mengingat dan mengenangmu...

hadisrisejarahkwd.blogspot.com

Senin, 05 November 2012

Sastra dan Sejarah

Dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak asing lagi bagi kita dengan kata sastra ataupun sejarah.

Jika kita melihat catatan dari sastra itu sendiri maka dapat kita simpulkan bahwa sastra menjadi bagian dari sejarah. Coba kita tengok ke belakang, pada tahun yang telah lampau. Sejarah telah mencatat sastra seperti halnya yang termaktub dalam tulisan-tulisan baik itu berupa cerita dan lain sebagainya telah mengisi dan menjadi bagian dari perjalanan sejarah. Sebagai contoh kisah Siti Nurbaya, sebuah cerita berbau sastra ini telah menjadi saksi sejarah bahwa budaya, sastra dan dunia literasi telah ada dan mulai berkembang di Indonesia.

Rabu, 19 September 2012

Peta Jalur Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kepercayaan Hindu-Budha




Agama dari budaya Hindu-Budha dibawa ke Indonesia oleh para pedagang dan pendeta dari India atau Cina, masuk ke Indonesia mengikuti dua jalur.

  1. Melalui Jalur Laut

Awal abad masehi jelur perdagangan tidak lagi melewati jalur darat, tetapi beralih ke jalur laut, sehingga secara tidak langsung perdagangan antara Cina dan India melewati selat Malaka. Untuk itu Indonesia ikut berperan aktif dalam perdagangan tersebut. Akibat hubungan dagang, maka terjadilah kontak antara Indonesia dengan India. Dan Indonesia dengan Cina. Para penyebar agama dan budaya Hindu-Budha yang menggunakan jalur laut datang ke Indonesia mengikuti rombongan kapal-kapal para pedagang yang biasa beraktivitas pada jalur India-Cina. Diantara mereka ada yang langsung dari India menuju Indonesia dengan memanfaatkan bertiupnya angin muson barat.
Jalur yang digunakan pedagang Cina_India dalam melakukan kegiatan dagang meliputi:
-          Jalur Pertama: Dari India menyusuri teluk Benggala-memasuki Selat Malaka-menyusuri Teluk Siam-menyusuri Teluk Tonkin, dan memasuki daratan Cina.
-          Jalur Kedua: Dari India menyusuri Teluk Benggala-memasuki Selat Malaka-menyusuri kepulauan Filipina dan menuju perairan Cina.

  1. Melalui Jalur Darat

Para penyebar agama dan budaya Hindu-Budha yang menggunakan jalur darat mengikuti para pedagang melalui jalur Sutra, dari India ke Tibet terus ke utara sampai dengan Cina, Korea dan Jepang. Ada juga yang melakukan perjalanan dari India utara menuju Bangladesh, Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya kemudian berlayar menuju Indonesia

Senin, 10 September 2012

Teori Masuknya Agama dan Kebudayaan Hindu Budha





  1. Penyiaran agama Budha.
      Penyiaran agama Budha di Indonesia lebih awal dari agama Hindu. Dalam   penyebarannya, agama Budha mengenal hanya misi penyiar agama yang disebut dengan Dharmadhuta. Tersiarnya agama Budha di Indonesia, diperkirakan sejak abad ke-2 Masehi, dibuktikan dengan penemuan patung Budha dari perunggu di Jember, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Patung itu berlanggam Amarawati. Namun belum diketahui siapa pembawanya dari India Selatan ke Indonesia.

  1. Penyiaran agama Hindu
      Hubungan dagang Indonesia dengan India dan Cina telah menempatkan Indonesia di kancah perdagangan dan pelayaran masa Kuno. Namun, pengaruh kebudayaan India dan Cina terhadap perkembangan sejarah Indonesia amat berbeda.

Hipotesis-hipotesis tersebut dibagi ke dalam dua kelompok besar yaitu teori kolonisasi dan teori arus balik.
  1. Teori Kolonisasi
Teori ini berusaha menjelaskan proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia dengan menekankan pada peran aktif dari orang-orang India dalam menyebarkan pengaruhnya di Indonesia.
Teori Kolonisasi ini terbagi dalam beberapa hipotesis, yaitu sebagai berikut:
1)      Hipotesis Waisya
Menurut NJ. Krom, proses terjadinya hubungan antara India dan Indonesia karena adanya hubungan perdagangan, sehingga orang-orang India yang datang ke Indonesia sebagian besar adalah para pedagang.

Kelebihan:
Para pedagang India harus menetap dalam kurun waktu tertentu sampai datangnya angin musim yang memungkinkan mereka untuk melanjutkan perjalanan. Selama mereka menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan pribumi. Mulai dari sini pengaruh budaya India menyebar dan menyerap dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Kelebihan:
Para pedagang yang termasuk dalam kasta Waisya tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang umumnya hanya dikuasai oleh kasta Brahmana, padahal sebagian besar prasasti menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Selain itu, melihat peta persebaran kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Indonesia yang lebih banyak berada di pedalaman, bukan berada di daerah pesisir pantai.

2)      Hipotesis Ksatria
Teori ini mengatakan bahwa proses masuknya budaya India ke Indonesia diperankan oleh golongan prajurit, yaitu kasta Ksatria. Masuknya golongan prajurit ini disebabkan oleh bentuk kolonialisasi yang terjadi di Indonesia. Mereka datang untuk menakhlukkan wilayah Indonesia dan kemudian menyebarkan ajaran Hindu-Belanda.

  1. Teori Arus Balik
Teori yang dikemukakan oleh Bosch dikenal dengan teori Arus Balik. Menurut teori ini, yang pertama kali datang ke Indonesia adalah mereka yang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu-Budha, yaitu para intelektual yang ikut menumpang kapal-kapal dagang. Setelah tiba di Indonesia, mereka menyebarkan ajarannya. Karena pengaruh ini, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk mengikuti ajarannya tersebut. Pada perkembangan selanjutnya banyak orang Indonesia sendiri yang pergi ke India untuk berkunjung dan belajar agama Hindu-Budha di India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya kepada masyarakat Indonesia yang lain.
Bukti dari pendapat di atas adalah adanya prasasti Nalanda yang menyebutkan bahwa Balaputradewa (raja Sriwijaya) telah meminta kepada raja India untuk membangun Wihara di Nalanda sebagai tempat untuk menimba ilmu para tokoh dari Sriwijaya. Permintaan raja Sriwijaya itu ternyata dikabulkan. Dengan demikian setelah para tokoh atau pelajar itu menuntut ilmu di sana, mereka balik ke Indonesia. Merekalah yang selanjutnya menyebarkan pengaruh Hindu-Budha di Indonesia

Minggu, 09 September 2012

Menganalisis Perjalanan Bangsa Indonesia pada Masa negara-negara Tradisional

SK
Menganalisis Perjalanan Bangsa Indonesia pada Masa Negara-negara Tradisional.

Kompetensi Dasar
1.1. Menganalisis Pengaruh Perkembangan Agama dan Kebudayaan Hindu-Budha terhadap masyarakat di Berbagai Daerah di Indonesia.

A. Teori Masuk dan Berkembangnya Agama Hindu-Budha di Indonesia India dan Cina.

Pada awal abad tarikh Masehi, negeri Kepulauan Nusantara telah menjalin hubungan dengan bangsa-bangsa di Asia. Bentuk hubungan dagang yang berlangsung pada saat itu bermula dari kegiatan perdagangan dan pelayaran. Sebagai akibat dari hubungan perdagangan dan pelayaran, timbullah pertemuan kebudayaan yang melahirkan kebudayaan baru bagi masyarakat Nusantara. Proses percampuran antara dua atau lebih kebudayaan yang saling bertemu dan mempengaruhi itu disebut akulturisasi kebudayaan.

Adanya hubungan dagang pada awal abad tarikh Masehi, didasarkan adanya sumber-sumber baik ekstern maupun intern.
a. Ekstern
  1.  Sumber dari India. Bukti adanya hubungan dagang tersebut dapat diketahui dari kitab Jataka dan kitab Ramayana tetapi       tidak menyebutkan kapan India mengenal Indonesia. Kitab sastra India yang dapat dipercaya adalah kitab Mahaniddesa yang memberi petunjuk bahwa masyarakat India telah mengenal beberapa tempat di Indonesia pada abad ke-3 Masehi. Dalam kitab Geographike yang ditulis pada abad ke-2 juga disebutkan telah ada hubungan dagang antara India dan Indonesia. Dari kedua keterangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara intensif terjadinya hubungan dagang antara Indonesia dan India mulai abad-abad tersebut (abad ke 2-3 Masehi)
  2. Sumber dari Cina.  Hubungan Indonesia dengan Cina diperkirakan telah berkembang pada abad ke-5. Bukti-bukti yang memperkuat hubungan itu diantaranya adalah perjalanan seorang pendeta Budha, Fa Hien. Pada sekitar tahun 413 M, Fa Hien melaakukan perjalanan dari India ke Ye-po-ti (Tarumanegara) dan kembali ke Cina melalui jalur laut. Selanjutnya, Kaisar Cina, Wen Ti mengirim utusan ke She-po (Pulau Jawa).
  3. Sumber dari Yunani. Hubungan dagang antara Indonesia dengan India dan Cina dapat diketahui dari Claudius Ptolomeus, seorang ahli ilmu bumi Yunani. Dalam kitabnya yang berjudul Geographike yang ditulis pada abad ke-2, Ptolomeus menyebutkan nama Labadio yang artinya pulau jelai. Mungkin kata itu ucapan Yunani untuk menyebut Yawadwipa, yang artinya juga pulau jelai. Dengan demikian seperti yang disebutkan dalam kitab Ramayana bahwa Yawadwipa yang dimaksud ialah Pulau Jawa.

b. Intern. Adanya sumber-sumber dari luar, seperti dari India, Cina dan Yunani, diperkuat adanya sumber-sumber yang ada di Indonesia sendiri.
  1. Prasasti.  Prasasti-prasasti tertua di Indonesia yang menunjukkan hubungan Indonesia dengan India, misalnya Prasasti Mulawarwan di Kalimantan Timur yang berbentuk Yupa. Semua prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.
  2. Kitab-kitab Kuno. Kitab-kitab kuno yang ada di Indonesia biasanya ditulis pada daun lontar yang ditulis dengan menggunakan bahasa dan tulisan Jawa Kuno yang juga merupakan pengaruh dari bahasa Sansekerta dan tulisan Pallawa.
  3. Bangunan-bangun Kuno. Bangunan kuno yang bercorak Hindu atau pun Budha terdiri atas candi, stupa, relief dan arca.