OLEH
Dra.HADI
SRI SUHARTI ERNANINGSIH
NIP : 19680526
199802 2 004
DIBIAYAI OLEH
SWADAYA
MANDIRI
SMA NEGERI 1
KWADUNGAN
TAHUN 2012
HALAMAN PENGESAHAN
USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION
RESEARCH)
1.
Judul Penelitian : “UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
STAD DI KELAS XI IPA SMA NEGERI I KWADUNGAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013
2.
Penelitian :
a.
Nama Lengkap : Dra.
HADI SRI SUHARTI ERNANINGSIH
b.
Jenis Kelamin : Perempuan
c.
Pangkat/Gol : Pembina / IV A
d.
N I P : 19680526
199802 2 004
e. Mata Pelajaran : Sejarah
f.
Sekolah : SMA NEGERI 1 KWADUNGAN NAGWI
3. Lama Penelitian : 3 ( Tiga) Bulan
Mulai
: Bulan Agustus s/d Oktober
2012
Ngawi, Nopember
2012
Mengetahui:
Kepala SMAN 1 Kwadungan Peneliti,
Drs.SUWARTOYO. M.Pd Dra,HADI SRI SUHARTI.E
NIP.19570721 198403 1 003 N I P. 19680526
199802 2 004
ABSTRAKSI
Ernaningsih,H.S.S. 2012. UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
STAD DI KELAS XI IPA SMA NEGERI I KWADUNGAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013
Kata Kunci : Hasil
Belajar,Belajar Kooperatif,STAD,Sejarah SMA
Berdasarkan
data hasil belajar sejarah siswa dapat diketahui bahwa kwalitas proses dan
hasil pembelajaran yang terjadi di SMA N I Kwadungan masih rendah.Hal ini dapat
diamati dari nilai rata – rata semester 1 tahun pelajaran 2012/2013 dari 30
siswa 12 siswa tuntas setelah melalui proses remidial, hal yang hampir sama
juga tetrjadi pada tahun – tahun sebelumnya. Hal ini dapat mengindikasi bahwa
siswa klas XI IPA mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran
Sejarah,Disamping itu juga kami sadari bahwa metode pembelajaran yang
diterapkan selama ini masih didominasi oleh penggunaan metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam,
dengar, catat dan hafal ( 3DCH ) Sehingga kegiatan pembelajaran menjadi monoton
,sebagian besar siswa pasif,minat belajar sejarah rendah,pembelajaran hanya
berpusat di guru,padahal materi yang harus dipelajari sangat luas dengan
alokasi waktu yang sangat sedikit ( 1jam/minggu).Berdasar pada permasalahan
tersebut disepakati bahwa pemecahan masalah akan dilakukan dengan menggunakan
metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.Secara umum penelitian ini bertujuan
untuk menigkatkan kwalitas proses dan hasil belajar sejarah pada siswa klas XI
IPA melalui penggunaan metode belajar kooperatif tipe STAD.
Penelitian ini menggunakan rancangan peneitian
tindakan kelas yang terdiri dua siklus.Pada masing – masing siklus terdiri 4
tahap : perencanaan,pelaksanaan tindakan,pengamatan , refleksi. Subyek
penelitian adalah siswa kelas XI IPA I SMA N I Kwadungan sebanyak 30
siswa.Perencanaan tindakan dilaksankan bulan Januari 2012 , pelaksanaan
tindakan dilaksankan bulan Oktober-Nopember 2012,penyusunan laporan bulan Oktober-Nopember
2012
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe
STAD pada KD merekonstruksi perkembangan masyarakat Indonesia sejak proklamasi
hingga demokrasi terpimpin di kelas XI IPA I SMA N I Kwadungan dapat : (1)
Meningkatkan hasil belajar sejarah,dibuktikan dengan ketuntasan hasil belajar
siswa yang meningkat pada akkhir sikklus II. (2) Meningkatkan kwalitas proses
belajar yang nampak dari keaktifan siswa dalam proses pembelajaran,berupa
keaktifan siswa bertanya ketika guru menjelaskan materi,keaktifan menjawab
pertayaan guru,keaktifan dalam dikusi kelompok dan kelas. (3) Menurut siswa :
penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat menarik dan menyenangkan
karena memberi kesempatan kepada mereka menyampaikan idenya (4) faktor
penghambat yang dirasakan dalam penggunaan metode ini adalah masalah
pengelolaan waktu.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Fungsi Pendidikan Nasional
adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab (UU No. 20 th. 2003 pasal 3). Dalam GBHN 1988 dinyatakan
peranan pendidikan nasional yang kaitannya dengan sejarah yaitu meningkatkan kualitas
manusia Indonesia, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,
berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras. Selain itu yang perlu digaris
bawahi adalah bahwa pendidikan nasional harus mampu menumbuhkan dan memperdalam
rasa cinta tanah air (nasionalisme) dan mempertebal semangat kebangsaan
(patriotisme).
Berdasar
ketentuan kurikulum 2004 ,Pengajaran sejarah di sekolah bertujuan agar siswa
memperoleh kemampuan berpikir historis dan pemahaman sejarah. Mampu
mengembangkan kompetensi untuk berpikir secara kronologis dan memiliki
pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan
menjelaskan proses
perkembangan
dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya
dalam
rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengahtengah
kehidupan
masyarakat dunia. Agar siswa menyadari adanya keragaman pengalaman hidup pada
masing-masing masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda
terhadap
masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun pengetahuan serta pemahaman
untuk menghadapi masa yang akan datang.
Pada tingkat SMA dan MA pelajaran Sejarah
bertujuan:
- Mendorong siswa berpikir kritis-analitis dalam memanfaatkan
- pengetahuan tentang masa lampau untuk memahami kehidupan
- masa kini dan yang akan datang.
- Memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari kehidupan seharihari.
- Mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk memahami proses perubahan dan keberlanjutan masyarakat.
Suatu pernyataan yang sangat fenomenal dari
Presiden Sukarno bahwa ”bangsa yang besar
adalah bangsa yang selalu menghargai sejarah perjuangan bangsanya”.
Ungkapan yang begitu bijaksana mengandung pengertian yang sangat mendalam ini
menunjukkkan begitu pentingnya peranan pelajaran sejarah.
Kenyataan yang dijumpai di lapangan menunjukkan proses
pembelajaran sejarah jauh dari harapan tersebut ditandai dengan rendahnya
motivasi siswa untuk belajar sejarah, siswa sangat sulit diajak berinteraksi di
dalam proses pembelajaran,siswa menunjukkan sikap diam dan pasif . puncaknya
hasil akhir dari proses pembelajaran sangat jauh dari harapan ,hampir di setiap ulangan harian kebanyakan siswa memperoleh nilai di bawah
standart ketuntasan minimal.
Kenyataan di atas disebabkan antara lain:
a. Pembelajaran guru masih konvensional, yaitu metode ceramah dan mengharapkan
siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal ( 3DCH ) Sehingga Kegiatan Belajar
Mengajar ( KBM ) menjadi monoton dan kurang menarik perhatian siswa. Guru terpancang pada doktrin patent bahwa
pembelajaran sejarah tidak terlepas dari 4 W + 1 H ( why, when, where, who dan
how) sehingga sering kali guru hanya membeberkan urutan waktu, tokoh dan
peristiwa belaka.Akibatnya pelajaran sejarah dirasakan siswa hanyalah
mengulangi hal-hal yang sama dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat sekolah
menengah atas. Tidak mengherankan di
pihak guru sering timbul kesan bahwa mengajar sejarah itu mudah. Akibatnya
nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah tidak dapat dipahami dan diamalkan
peserta didik (Soewarso 2000:1-2). Hal serupa juga dikatakan Suharya (2007:1)
dalam www.duniaguru.com, yang menyebutkan bahwa pelajaran IPS, khususnya
sejarah sering disebut sebagai pelajaran hafalan dan membosankan. Pelajaran ini
tidak lebih dari rangkaian angka tahun dan urutan peristiwa yang harus diingat
kemudian diungkap kembali saat menjawab soal ujian, akibatnya pelajaran sejarah
kurang diminati oleh siswa.
b. Sarana yang mendukung proses belajar
mengajar yaitu buku paket, buku pegangan siswa dan buku penunjang lainnya sangat terbatas .
c. Materi masa lampau yang sangat luas meliputi
seluruh aspek kehidupan penting manusia di seluruh dunia.
d. Ketidakseimbangan jumlah jam tatap muka
dengan materi yang ada ( untuk XI IPA hanya 1 jam pelajaran / miggu dengan m
ateri dari masa Hindu Budha sampai awal orde baru ).
e. Sejarah adalah ilmu sosial ,di kelas
jurusan IPA selalu dipandang sebelah mata sebagai mata pelajaran kelas dua
setelah eksakta
f. Budaya belajar yang sangat rendah pada
sebagian besar siswa.
Kurikulum dewasa ini
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) menuntut guru untuk mengubah pola-pola
pembelajarannya, yang semula berpusat pada guru, menjadi pembelajaran yang
berfokus pada aktifitas siswa. Kurikulum juga menuntut perubahan peran siswa
dari kebiasaannya sebagai pendengar pasif dan menunggu perintah guru untuk
melakukan sesuatu menjadi siswa yang aktif, kreatif dan mampu berinisiatif
serta mampu bersosialisasi antar sesamanya. Dengan demikian kegiatan
pembelajaran yang berlangsung tidak menimbulkan kejenuhan kepada siswa akan
tetapi dapat meningkatkan motivasi belajar dan semangat siswa, yang berakibat pada meningkatnya
pemahaman siswa terhadap bidang studi sejarah sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Atas dasar uraian tersebut kami
mencoba untuk mengangkat masalah pemilihan model pembelajaran dalam penelitian
tindakan kelas dengan mengambil judul :UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
STAD DI KELAS XI IPA I SMA NEGERI I
KWADUNGAN TAHUN PELAJARAN 2010/2011
B. PERUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan latar belakang
diatas ditetapkan rumusan masalah
Rumusan masalah diatas dirinci sebagai berikut :
1. Apakah pembelajaran menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan pemahaman siswa pada mata
pelajaran sejarah di Kelas XI
IPA SMA Negeri 1 Kwadungan Tahun
Pelajaran 2012/2013?
2. Apakah pembelajaran menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran sejarah di Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kwadungan Tahun
Pelajaran 2012/2013?
C. PEMECAHAN
MASALAH
Berdasarkan rumusan masalah
diatas, maka alternative cara pemecahan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan
pemahaman siswa pada mata pelajaran Sejarah melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan
memperbaiki strategi pembelajaran.
2. Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran Sejarah, melalui model pembelajaran kooperatif
tipe STAD dengan melakukan observasi, lalu merancang evaluasi, situasi belajar
dengan pembentukan kelompok-kelompok belajar.
D. TUJUAN
PENELITIAN
Tujuan penelitian ini untuk
memperbaiki berbagai masalah yang timbul dalam pembelajaran Sejarah di kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Kwadungan
Tahun Pelajaran 2012/2013.
Adapun tujuan secara rinci sebagai
berikut : untuk mengetahui sejauh mana model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di Kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Kwadungan Tahun Pelajaran 2012/2013?
E.
MANFAAT HASIL
PENELITIAN
Hasil penelitian diharapkan dapat memberi manfaat bagi :
1.
Bagi siswa :
·
Membantu
siswa mencapai kompentensi diri dalam menuntaskan materi pembelajaran sejarah
·
Membantu
siswa meningkatkan hasil belajar dalam
pembelajaran sejarah
·
Membantu
siswa memahami konsep, kejadian, peristiwa, fakta, data dan interprestasi serta
kebenaran sejarah.
·
Mengoptimalkan
potensi diri yang dimiliki siswa.
·
Semakin
termotivasi untuk meningkatkan pemahaman mata pelajaran Sejarah.
2.
Bagi Guru :
·
Meningkatkan
pengetahuan dan pengalaman tentang penelitan tindakan kelas.
·
Mengembangkan
kurikulum tingkat satuan pendidikan secara komprehensif dengan berbagai
pendekatan dan penilaian.
·
Menemukan
inovasi pembelajaran yang akan
memberikan perbaikan dan peningkatan.
·
Menumbuhkan
budaya meneliti dan menulis.
·
Memotivasi
untuk selalu exsplorasi dalam teknik, metode dan model pembelajaran yang
kreatif serta inovatif dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa
3. Bagi Sekolah :
·
Merupakan sumbangan pemikiran untuk peningkatan dan
pengembangan sekolah.
|
|
|
|
BAB II
KAJIAN
TEORI DAN PUSTAKA
Dalam penerapan pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD diharapkan
para guru memiliki pemahaman yang
sama terhadap metode tersebut dalam membantu proses belajar. Oleh karena itu
perlu memahami:
1. Hakekat belajar
a.
Hakekat belajar
Dalam Kamus umum Bahasa Indonesia,
Belajar berarti usaha (terlatih) supaya mendapatkam suatu kepandaian. Menurut
Soemadi Suryabrata (1993) Belajar mengandung tiga pengertia, yaitu belajar itu
membawa perubahan, perubahan itu pada pokoknya didapatkan kecakapan baru, dan
perubahan itu terjadi karena usaha sadar.
Belajar merupakan suatu proses
kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh siswa untuk mencapai tujuan. Selanjutnya Sukirin (1984) mengatakan
bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang disengaja untuk merubah tingkah laku
sehingga diperoleh kecakapan baru.
James Witaker dalam Sumanto, 1998 belajar adalah proses dimana
tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Jadi
dalam proses pembelajaran diharapkan siswa mendapat pengetahuan dan pengalaman
baru.
Dengan demikian
jelaslah bahwa belajar itu merupakan aktivitas yang bertujuan menjadi bisa atau
mampu dengan berbagai proses aktif serta usaha yang disengaja.
Dalam
keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan
yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan
banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa
sebagai anak didik.
b. Hasil belajar
Hasil belajar tidak akan lepas dari siswa yang
sedang belajar. Siswa yang sedang belajar pasti ingin memperoleh hasil belajar yang baik. Terlebih lagi dalam
lingkungan sekolah, Hasil belajar adalah
yang selalu ada dalam dunia pendidikan. Dengan adanya Hasil belajar, guru dapat menilai kemampuan siswa
dalam menyerap materi pelajaran yang diajarkan. Jika hasil belajar anak baik, maka anggapan pertama
terhadap anak tersebut adalah dapat menyerap pelajaran dengan baik.
Beberapa definisi berkaitan dengan pengertian hasil belajar :
·
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Depdikbud:1994) definisi hasil belajar adalah
sesuatu yang diperoleh dari suatu usaha, pendapatan atau perolehan.
·
“Hasil belajar adalah hasil yang dicapai setelah
seseorang melakukan usaha”(Daryanto dalam Ferry, 2003:12).
·
“Hasil belajar adalah suatu nilai yang menunjukkan
hasil tertinggi dalam belajar yang dapat dicapai menurut kemampuan seseorang
dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu”(Djamarah,dalam Ferry, 2003:12).
·
Satu
definisi lagi yang perlu dikemukakan disini yaitu “Hasil belajar adalah hasil terakhir yang dicapai
sebaik-baiknya dalam jangka waktu tertentu di sekolah”.(Muhibbin, Ferry
2003:12).
Jadi
Hasil belajar adalah hasil terakhir
dalam belajar yang berupa nilai dalam jangka waktu tertentu. Hasil belajar siswa perlu diketahui supaya dapat
diketahui pula mutu keberhasilan pada diri siswa tersebut.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi hasil belajar menurut
Sudjana (dalam Ferry, 2003:12), dibagi menjadi dua :
·
Faktor
internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa, misalnya sikap siswa,
kemampuan individu, minat dan fisik maupun psikis siswa.
·
Faktor
eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, misalnya guru yang
mengajar, sarana dan prasarana, lingkungan sekolah, perlakuan pembelajaran
terhadap siswa dan lain sebagainya.
.
2.
Pengajaran Sejarah
Sesuai dengan ketentuan kurikulum 2004
a.
Pengertian sejarah : adalah mata pelajaran yang menanamkan
pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat
Indonesia dan dunia dari masa lampau hingga kini.
b.
Tujuan dan Fungsi Mata Pelajaran Sejarah
Tujuan
Pengajaran
sejarah di sekolah bertujuan agar siswa memperoleh
kemampuan
berpikir historis dan pemahaman sejarah. Melalui
pengajaran
sejarah siswa mampu mengembangkan kompetensi untuk
berpikir
secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa
lampau
yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses
perkembangan
dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya
dalam
rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengahtengah
kehidupan
masyarakat dunia. Pengajaran sejarah juga bertujuan
agar
siswa menyadari adanya keragaman pengalaman hidup pada
masing-masing
masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda
terhadap
masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun
pengetahuan
serta pemahaman untuk menghadapi masa yang akan
datang.
Pada tingkat SMA dan MA pelajaran Sejarah
bertujuan:
•
Mendorong siswa berpikir kritis-analitis dalam memanfaatkan
pengetahuan
tentang masa lampau untuk memahami kehidupan
masa
kini dan yang akan datang.
•
Memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari kehidupan seharihari.
•
Mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk
memahami
proses perubahan dan keberlanjutan masyarakat.
Fungsi
Pengajaran
sejarah berfungsi untuk menyadarkan siswa akan adanya
proses
perubahan dan perkembangan masyarakat dalam dimensi waktu
dan
untuk membangun perspektif serta kesadaran sejarah dalam
menemukan,
memahami, dan menjelaskan jati diri bangsa di masa lalu,
masa
kini, dan masa depan di tengah-tengah perubahan dunia.
c.
Ruang Lingkup
Ruang
lingkup materi pengajaran sejarah di SMA dan MA disusun berdasarkan urutan kronologis
yang dijabarkan dalam aspek-aspek tertentu sebagai materi standar. Sejak tahun
kedua, di samping materi tertentu yang diberikan pada semua program studi
sebagai pengetahuan bersama, sebagian materi pokok disusun sesuai dengan pengkhususan program studi.
Materi
pokok pengajaran sejarah di SMA dan MA meliputi:
- Pengantar Ilmu Sejarah.
- Kehidupan paling awal masyarakat di Indonesia.
- Naik turunnya pengaruh tradisi Hindu-Buddha di Indonesia.
- Perkembangan awal tradisi Islam di Indonesia.
- Perkembangan pengaruh Barat dan perubahan masyarakat di
- Indonesia pada masa kolonial.
- Muncul dan berkembangnya pergerakan nasional Indonesia.
- Interaksi Indonesia-Jepang dan keadaan Indonesia pada masa
- pendudukan Jepang.
- Perkembangan Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
- Perubahan di Indonesia di tengah usaha mengisi kemerdekaan.
- Jatuhnya Orde Baru dan reformasi.
- Perkembangan dunia internasional setelah Perang Dunia II dan pengaruhnya terhadap Indonesia.
- Peristiwa mutakhir dunia dan globalisasi.
- Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
G. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sejarah
1. Kompetensi
Kurikulum Sejarah
Terdapat
delapan kompetensi umum dalam kurikulum sejarah, yaitu:
a. Mampu menghubungkan
keterkaitan antara manusia, waktu,tempat, dan kejadian sejarah.
b. Mampu membangun konsep
waktu, urutan waktu, dan menggunakannya dalam menentukan sebab-akibat suatu kejadian
dan menilai perubahan dan keberlanjutan.
c. Mampu menunjukkan peran
tokoh politik, sosial, budaya,agama, ekonomi, teknologi, dan ilmu dalam
menentukan bentuk dan arah suatu kelompok sosial, masyarakat, bangsa, dan
dunia.
d. Mampu menentukan asal usul
suatu adat, hari besar nasional,perayaan lainnya, dan bangunan bersejarah,
memelihara dan mengembangkannya.
e. Mampu menarik informasi dan
berpikir kritis-analitis tentang informasi yang diperoleh dari sumber sejarah
dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
f. Mampu memahami karakteristik
berbagai peristiwa penting dalam sejarah lokal,daerah, nasional, dan
internasional serta memanfaatkannya untuk mengkaji berbagai masalah kehidupan pribadi,
masyarakat, dan bangsa.
g. Membangun semangat
kebangsaan yang positif, kebersamaan sebagai bangsa dan semangat persaingan
yang positif dalam lingkungan kebangsaan dan antarbangsa.
h. Mampu bertindak secara
demokratis dan menghargai berbagai perbedaan serta keragaman sosial, kultural,
agama, etnis, dan ideologis dalam masyarakat.
2.
Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Sejarah di SMA dan MA
Kompetensi
yang diwujudkan melalui mata pelajaran Sejarah di
tingkat
SMA dan MA adalah:
- Mampu mengklasifikasi perkembangan masyarakat untuk menjelaskan proses keberlanjutan dan perubahan dari waktu ke waktu.
- Mampu memahami, menganalisis, dan menjelaskan berbagai aspek kehidupan seperti ilmu pengetahuan dan teknologi,lingkungan hidup, ekonomi, politik, sosial dan budaya sertapengaruhnya terhadap masyarakat di Indonesia dan dunia dari waktu ke waktu.
- Mampu mengidentifikasi, memahami, dan menjelaskan keragaman dalam sejarah masyarakat di Indonesia dan dunia serta perubahannya dalam konteks waktu.
- Mampu menemukan dan mengklasifikasi berbagai sumber sejarah dan adanya keragaman analisis serta interpretasi terhadap
- fakta tentang masa lalu yang digunakan untuk merekonstruksi dan mendeskripsikan peristiwa serta objek sejarah.
- Menyadari arti penting masa lampau untuk memahami kekinian dan membuat keputusan.
3. Pembelajaran
a.
Hakekat Pembelajaran
Pembelajarn
merupakan strategi belajar yang berusaha mengembangkan seluruh potensi peserta
didik dari aspek kognitif, efektif dan psikomor.
b.
Model Pembelajaran
Model pembelajarn adalah suatu
perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran dikelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan
perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, film, computer,
kurikulum dan lain-lain ( Joyce, 1992;4)
Selanjutnya Joyce mengatakan bahwa
setiap model pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga
tujuan pembelajaran tercapai.
Adapaun Sukamto dkk mengemukakan
maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan
prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman dalam merancang
pembelajaran dalam aktifitas belajar mengajar, hal ini sejalan dengan apa yang
dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan kerangka
dan arah bagi guru untuk mengajar.
.
c.Pembelajaran Koperatif
Ada beberapa definisi pembelajaran
kooperatif yang dikemukakan oleh ahli pendidikan. Menurut
Slavin (1995:5): Cooperative learning methods share the idea that students
works together to learn and are responsible for their teammates learning as
well as their own.
Definisi menurut Slavin ini dapat diartikan bahwa metode pembelajaran kooperatif adalah saling
bertukar pikiran/ide diantara pelajar yang terlibat untuk belajar dan
bertanggungjawab terhadap hasil belajar anggota lainnya sebagaimana terhadap
dirinya sendiri. Selain itu, Artzt dan Newman (dalam As’ari, 2000:1)
mengemukakan bahwa cooperative learning is an approach that involves a small
group of learners working together as a team to solve a problem, complete a task,
or accomplish a common goal. Pembelajaran kooperatif adalah suatu
pendekatan yang melibatkan suatu kelompok kecil siswa yang bekerja bersama
sebagai satu tim untuk menyelesaikan suatu permasalahan, menyelesaikan tugas,
ataupun menyelesaikan / menyempurnakan tujuan umum. Menurut Johnson (dalam
Supriyadi, 1995:56) metode pembelajaran kooperatif merupakan metode
pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama, yakni kerja sama antar siswa
dalam kelompoknya untuk mencapai tujuan belajar..
Dengan demikian, dari beberapa definisi di atas
dapat dikemukakan bahwa metode pembelajaran kooperatif merupakan metode
pembelajaran yang berorientasi pada siswa untuk melaksanakan suatu kegiatan
bersama dalam kelompok-kelompok kecil(antara 3 sampai 5 orang) yang memiliki kemampuan
yang berbeda. Dalam hal ini setiap anggota kelompok bertanggungjawab terhadap
keberhasilan diri dan anggota lainnya. Oleh karena itu setiap anggota harus
saling bekerjasama dan saling membantu dalam memahami bahan pelajaran sehingga
setiap anggota kelompok akan mencapai potensi optimal yang mungkin diraihnya.
Menurut
Lundgren (dalam Ratumanan, 2002:109) unsur-unsur dasar yang perlu ditanamkan
kepada siswa agar pembelajaran kooperatif dapat lebih efektif adalah sebagai
berikut:
a.
Para
siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam” atau “berenang” bersama.
b.
Para
siswa memiliki tanggungjawab terhadap siswa lain dalam kelompoknya, disamping
tanggungjawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c.
Para
siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
d.
Para
siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggungjawab sama besarnya diantara para
anggota kelompok.
e.
Para
siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh
terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f.
Para
siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja
sama selama belajar.
g.
Para
siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang
ditangani dalam kelompok kooperatif.
Arends (dalam Ratumanan, 2002:110)
mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga
tujuan yaitu:
a.
Prestasi akademik
Belajar kooperatif
sangat menguntungkan baik bagi siswa yang berkemampuan rendah maupun yang
berkemampuan tinggi. Siswa
berkemampuan tinggi dapat menjadi tutor bagi siswa yang berkemampuan rendah dan
juga dapat menambah pengetahuannya. Sedangkan bagi siswa yang berkemampuan
rendah dapat meningkatkan motivasi belajarnya sehingga nanti akan meningkatkan
prestasi belajar siswa.
b.
Penerimaan akan keanekaragaman
Belajar kooperatif menyajikan peluang bagi
siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi sosial, untuk bekerja dan saling
bergantung pada tugas-tugas rutin, dan melalui penggunaan struktur penghargaan
kooperatif dapat belajar menghargai satu sama lain.
Jadi belajar kooperatif bertujuan
mengajarkan pada siswa keterampilan-keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Dan
ini adalah keterampilan-keterampilan yang penting yang harus dipunyai dalam
suatu masyarakat.
d. Koperatif Tipe Student Teams-Achievement
Division (STAD)
Model pembelajaran Tipe STAD dikembangkan oleh Robert Slavin
dan kawan-kawannya dari Universitas John Hopkins dipandang sebagai yang paling
sederhana dan paling langsung di antara pembelajaran
kooperatif yang lain. .STAD terdiri dari lima komponen utama, yaitu
presentasi kelas, kerja tim, kuis, skor perbaikan individu dan penghargaan tim.
1. Presentasi Kelas
Bahan ajar
mula-mula diperkenalkan dalam suatu presentasi kelas. Presentasi ini paling
sering menggunakan pengajaran langsung atau ceramah diskusi yang dilakukan oleh
guru, namun dapat meliputi presentasi audio-visual atau kegiatan penemuan
kelompok. Pada kegiatan ini siswa bekerja untuk menemukan informasi atau
mempelajari konsep-konsep atas upaya mereka sendiri sebelum pengajaran guru.
Presentasi kelas dalam STAD harus memfokus pada unit STAD tersebut. Dengan cara
ini siswa menyadari bahwa mereka harus memperhatikan presentasi kelas, karena
dengan begitu akan membantu mereka mengerjakan kuis dengan baik, dan skor kuis
mereka menentukan skor tim mereka.
2. Kerja Tim
Tim tersusun dari
empat atau lima siswa yang mewakili heterogenitas kelas dalam kinerja akademik,
jenis kelamin maupun suku. Fungsi utama tim adalah menyiapkan anggotanya
berhasil menghadapi kuis. Setelah presentasi bahan ajar, tim berkumpul untuk
mempelajari LKS atau bahan yang lain. Kerja tim merupakan ciri terpenting STAD.
Pada setiap saat penekanan diberikan pada anggota tim agar melakukan yang
terbaik untuk timnya, dan pada tim agar melakukan yang terbaik untuk membantu
anggotanya. Tim tersebut menyediakan dukungan teman sebaya untuk kinerja
akademik yang memiliki pengaruh berarti pada pembelajaran, menunjukkan saling
peduli dan hormat yang memiliki pengaruh berarti bagi hasil belajar, seperti
hubungan antar kelompok, harga diri dan penerimaan terhadap kebanyakan siswa.
3. K u i s
Setelah satu sampai
dua periode presentasi guru dan latihan tim, siswa dikenai kuis individual.
Siswa tidak dibenarkan saling membantu selama kuis tersebut. Ini menjamin agar
siswa secara individual bertanggung jawab untuk memahami bahan ajar.
4. Skor Perbaikan Individu
Setiap siswa dapat
menyumbang poin maksimum kepada timnya, namun tidak seorang siswa pun dapat
melakukan seperti itu tanpa menunjukkan perbaikan atas kinerja masa lalu.
Setiap siswa diberikan suatu skor dasar, yang dihitung dari kinerja rata-rata
siswa pada kuis serupa sebelumnya. Kemudian siswa memperoleh poin untuk tim
mereka didasarkan pada berapa banyak skor kuis mereka melampaui skor dasar
mereka.
5. Penghargaan Tim
Tim dapat
memperoleh penghargaan apabila skor rata-rata mereka melampaui suatu kriteria
tertentu.
Hasil penelitian Rumansyah (2002) menyimpulkan
bahwa dengan pembelajaran tipe STAD aktifitas siswa meningkat, pengelolaan KBM
oleh guru berjalan dengan baik, keterampilan kooperatif siswa meningkat, dan
siswa menjadi lebih senang dalam belajar Matematika
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa pembelajaran kooperatif dengan
tipe STAD akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan rasa
kebersamaan dalam mencapai hasil belajar yang optimal dalam kelompoknya