Menulislah! Maka sejarah akan mencatat, mengingat dan mengenangmu...

hadisrisejarahkwd.blogspot.com

Minggu, 10 Maret 2013

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI KELAS XI IPA SMA NEGERI I KWADUNGAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013 (1)





OLEH
Dra.HADI SRI SUHARTI ERNANINGSIH
NIP : 19680526 199802 2 004
DIBIAYAI  OLEH
SWADAYA MANDIRI


SMA NEGERI  1  KWADUNGAN
TAHUN 2012





HALAMAN PENGESAHAN
USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)


1.      Judul Penelitian                       :   UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH  MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD   DI KELAS XI IPA  SMA NEGERI I KWADUNGAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013
2.      Penelitian                             : 
a.       Nama Lengkap               :  Dra. HADI SRI SUHARTI ERNANINGSIH
b.      Jenis Kelamin                 :  Perempuan
c.       Pangkat/Gol                   :  Pembina  / IV A
d.      N I P                              :  19680526 199802 2 004
e.       Mata Pelajaran               :  Sejarah
f.       Sekolah                          :  SMA NEGERI 1 KWADUNGAN  NAGWI

3.      Lama Penelitian                   :  3 ( Tiga) Bulan
                                                Mulai : Bulan Agustus  s/d  Oktober  2012


                                                                            Ngawi,    Nopember   2012
Mengetahui:                                                                      
Kepala SMAN 1 Kwadungan                             Peneliti,


Drs.SUWARTOYO. M.Pd                                Dra,HADI SRI SUHARTI.E
NIP.19570721 198403 1 003                               N I P. 19680526 199802 2 004


ABSTRAKSI

Ernaningsih,H.S.S. 2012. UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH  MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD   DI KELAS XI IPA  SMA NEGERI I KWADUNGAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Kata Kunci : Hasil Belajar,Belajar Kooperatif,STAD,Sejarah SMA

  Berdasarkan data hasil belajar sejarah siswa dapat diketahui bahwa kwalitas proses dan hasil pembelajaran yang terjadi di SMA N I Kwadungan masih rendah.Hal ini dapat diamati dari nilai rata – rata semester 1 tahun pelajaran 2012/2013 dari 30 siswa 12 siswa tuntas setelah melalui proses remidial, hal yang hampir sama juga tetrjadi pada tahun – tahun sebelumnya. Hal ini dapat mengindikasi bahwa siswa klas XI IPA mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran Sejarah,Disamping itu juga kami sadari bahwa metode pembelajaran yang diterapkan selama ini masih didominasi oleh penggunaan metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal ( 3DCH ) Sehingga kegiatan pembelajaran menjadi monoton ,sebagian besar siswa pasif,minat belajar sejarah rendah,pembelajaran hanya berpusat di guru,padahal materi yang harus dipelajari sangat luas dengan alokasi waktu yang sangat sedikit ( 1jam/minggu).Berdasar pada permasalahan tersebut disepakati bahwa pemecahan masalah akan dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menigkatkan kwalitas proses dan hasil belajar sejarah pada siswa klas XI IPA melalui penggunaan metode belajar kooperatif tipe STAD.
Penelitian ini menggunakan rancangan peneitian tindakan kelas yang terdiri dua siklus.Pada masing – masing siklus terdiri 4 tahap : perencanaan,pelaksanaan tindakan,pengamatan , refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA I SMA N I Kwadungan sebanyak 30 siswa.Perencanaan tindakan dilaksankan bulan Januari 2012 , pelaksanaan tindakan dilaksankan bulan Oktober-Nopember 2012,penyusunan laporan bulan Oktober-Nopember 2012
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada KD merekonstruksi perkembangan masyarakat Indonesia sejak proklamasi hingga demokrasi terpimpin di kelas XI IPA I SMA N I Kwadungan dapat : (1) Meningkatkan hasil belajar sejarah,dibuktikan dengan ketuntasan hasil belajar siswa yang meningkat pada akkhir sikklus II. (2) Meningkatkan kwalitas proses belajar yang nampak dari keaktifan siswa dalam proses pembelajaran,berupa keaktifan siswa bertanya ketika guru menjelaskan materi,keaktifan menjawab pertayaan guru,keaktifan dalam dikusi kelompok dan kelas. (3) Menurut siswa : penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat menarik dan menyenangkan karena memberi kesempatan kepada mereka menyampaikan idenya (4) faktor penghambat yang dirasakan dalam penggunaan metode ini adalah masalah pengelolaan waktu.



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Fungsi Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (UU No. 20 th. 2003 pasal 3). Dalam GBHN 1988 dinyatakan peranan pendidikan nasional yang kaitannya dengan sejarah yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras. Selain itu yang perlu digaris bawahi adalah bahwa pendidikan nasional harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta tanah air (nasionalisme) dan mempertebal semangat kebangsaan (patriotisme).
                
Berdasar ketentuan kurikulum 2004 ,Pengajaran sejarah di sekolah bertujuan agar siswa memperoleh kemampuan berpikir historis dan pemahaman sejarah. Mampu mengembangkan kompetensi untuk berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses
perkembangan dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya
dalam rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengahtengah
kehidupan masyarakat dunia. Agar siswa menyadari adanya keragaman pengalaman hidup pada masing-masing masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda
terhadap masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun pengetahuan serta pemahaman untuk menghadapi masa yang akan datang.
 Pada tingkat SMA dan MA pelajaran Sejarah bertujuan:
  • Mendorong siswa berpikir kritis-analitis dalam memanfaatkan
  • pengetahuan tentang masa lampau untuk memahami kehidupan
  • masa kini dan yang akan datang.
  • Memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari kehidupan seharihari.
  • Mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk memahami proses perubahan dan keberlanjutan masyarakat.
Suatu pernyataan yang sangat fenomenal dari Presiden Sukarno bahwa ”bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai sejarah perjuangan bangsanya”. Ungkapan yang begitu bijaksana  mengandung pengertian yang sangat mendalam ini menunjukkkan begitu pentingnya peranan pelajaran sejarah.

Kenyataan yang dijumpai di lapangan menunjukkan proses pembelajaran sejarah jauh dari harapan tersebut ditandai dengan rendahnya motivasi siswa untuk belajar sejarah, siswa sangat sulit diajak berinteraksi di dalam proses pembelajaran,siswa menunjukkan sikap diam dan pasif . puncaknya hasil akhir dari proses pembelajaran sangat jauh dari harapan ,hampir di setiap ulangan harian kebanyakan siswa memperoleh nilai di bawah standart ketuntasan minimal.
Kenyataan di atas disebabkan antara lain:
a.       Pembelajaran guru masih konvensional, yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal ( 3DCH ) Sehingga Kegiatan Belajar Mengajar ( KBM ) menjadi monoton dan kurang menarik perhatian siswa.  Guru terpancang pada doktrin patent bahwa pembelajaran sejarah tidak terlepas dari 4 W + 1 H ( why, when, where, who dan how) sehingga sering kali guru hanya membeberkan urutan waktu, tokoh dan peristiwa belaka.Akibatnya pelajaran sejarah dirasakan siswa hanyalah mengulangi hal-hal yang sama dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat sekolah menengah atas.  Tidak mengherankan di pihak guru sering timbul kesan bahwa mengajar sejarah itu mudah. Akibatnya nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah tidak dapat dipahami dan diamalkan peserta didik (Soewarso 2000:1-2). Hal serupa juga dikatakan Suharya (2007:1) dalam www.duniaguru.com, yang menyebutkan bahwa pelajaran IPS, khususnya sejarah sering disebut sebagai pelajaran hafalan dan membosankan. Pelajaran ini tidak lebih dari rangkaian angka tahun dan urutan peristiwa yang harus diingat kemudian diungkap kembali saat menjawab soal ujian, akibatnya pelajaran sejarah kurang diminati oleh siswa.  
b.      Sarana yang mendukung proses belajar mengajar yaitu buku paket, buku pegangan siswa dan buku penunjang lainnya  sangat terbatas .
c.       Materi masa lampau yang sangat luas meliputi seluruh aspek kehidupan penting manusia di seluruh dunia.
d.      Ketidakseimbangan jumlah jam tatap muka dengan materi yang ada ( untuk XI IPA hanya 1 jam pelajaran / miggu dengan m ateri dari masa Hindu Budha sampai awal orde baru ).
e.       Sejarah adalah ilmu sosial ,di kelas jurusan IPA selalu dipandang sebelah mata sebagai mata pelajaran kelas dua setelah eksakta
f.       Budaya belajar yang sangat rendah pada sebagian besar siswa.
Kurikulum dewasa ini (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) menuntut guru untuk mengubah pola-pola pembelajarannya, yang semula berpusat pada guru, menjadi pembelajaran yang berfokus pada aktifitas siswa. Kurikulum juga menuntut perubahan peran siswa dari kebiasaannya sebagai pendengar pasif dan menunggu perintah guru untuk melakukan sesuatu menjadi siswa yang aktif, kreatif dan mampu berinisiatif serta mampu bersosialisasi antar sesamanya. Dengan demikian kegiatan pembelajaran yang berlangsung tidak menimbulkan kejenuhan kepada siswa akan tetapi dapat meningkatkan motivasi belajar dan semangat  siswa, yang berakibat pada meningkatnya pemahaman siswa terhadap bidang studi sejarah sesuai dengan hasil yang diharapkan.
           
Atas dasar uraian tersebut kami mencoba untuk mengangkat masalah pemilihan model pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas dengan mengambil judul :UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN SEJARAH  MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD   DI KELAS XI IPA I SMA NEGERI I KWADUNGAN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

B.     PERUMUSAN   MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas ditetapkan rumusan masalah      
Rumusan masalah diatas dirinci sebagai berikut :
1.      Apakah pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran sejarah di Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kwadungan  Tahun Pelajaran  2012/2013?
2.      Apakah pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Kwadungan  Tahun Pelajaran  2012/2013?


C.     PEMECAHAN  MASALAH
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka alternative cara pemecahan sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan pemahaman siswa pada mata pelajaran  Sejarah melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan memperbaiki strategi pembelajaran.
2.      Untuk mengetahui ada tidaknya  peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah, melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan melakukan observasi, lalu merancang evaluasi, situasi belajar dengan pembentukan kelompok-kelompok belajar.


D.    TUJUAN  PENELITIAN
Tujuan penelitian ini untuk memperbaiki berbagai masalah yang                   timbul dalam pembelajaran Sejarah di kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Kwadungan  Tahun Pelajaran  2012/2013.
        Adapun tujuan secara rinci sebagai berikut :  untuk mengetahui sejauh mana model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di Kelas XI IPA I SMA Negeri 1 Kwadungan  Tahun Pelajaran  2012/2013?

E.     MANFAAT  HASIL  PENELITIAN
Hasil penelitian diharapkan dapat memberi manfaat  bagi :
1.      Bagi siswa :
·         Membantu siswa mencapai kompentensi diri dalam menuntaskan materi pembelajaran sejarah
·         Membantu siswa meningkatkan hasil belajar  dalam pembelajaran sejarah
·         Membantu siswa memahami konsep, kejadian, peristiwa, fakta, data dan interprestasi serta kebenaran sejarah.
·         Mengoptimalkan potensi diri yang dimiliki siswa.
·         Semakin termotivasi untuk meningkatkan pemahaman mata pelajaran Sejarah.

2.      Bagi Guru :
·         Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman tentang penelitan tindakan kelas.
·         Mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan secara komprehensif dengan berbagai pendekatan dan penilaian.
·         Menemukan inovasi pembelajaran yang  akan memberikan perbaikan dan peningkatan.
·         Menumbuhkan budaya meneliti dan menulis.
·         Memotivasi untuk selalu exsplorasi dalam teknik, metode dan model pembelajaran yang kreatif serta inovatif dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa

3.      Bagi Sekolah :
·         Merupakan sumbangan pemikiran untuk peningkatan dan pengembangan  sekolah.





















BAB  II
KAJIAN  TEORI  DAN  PUSTAKA

Dalam penerapan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD  diharapkan  para guru  memiliki pemahaman yang sama terhadap metode tersebut dalam membantu proses belajar. Oleh karena itu perlu memahami:
1.      Hakekat belajar
a.    Hakekat belajar
Dalam Kamus umum Bahasa Indonesia, Belajar berarti usaha (terlatih) supaya mendapatkam suatu kepandaian. Menurut Soemadi Suryabrata (1993) Belajar mengandung tiga pengertia, yaitu belajar itu membawa perubahan, perubahan itu pada pokoknya didapatkan kecakapan baru, dan perubahan itu terjadi karena usaha sadar.
Belajar merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh siswa untuk mencapai tujuan. Selanjutnya Sukirin (1984) mengatakan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang disengaja untuk merubah tingkah laku sehingga diperoleh kecakapan baru.
      James Witaker dalam Sumanto, 1998 belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Jadi dalam proses pembelajaran diharapkan siswa mendapat pengetahuan dan pengalaman baru.
Dengan demikian jelaslah bahwa belajar itu merupakan aktivitas yang bertujuan menjadi bisa atau mampu dengan berbagai proses aktif serta usaha yang disengaja.
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.
b.    Hasil belajar
Hasil  belajar tidak akan lepas dari siswa yang sedang belajar. Siswa yang sedang belajar pasti ingin memperoleh hasil  belajar yang baik. Terlebih lagi dalam lingkungan sekolah, Hasil  belajar adalah yang selalu ada dalam dunia pendidikan. Dengan adanya Hasil  belajar, guru dapat menilai kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran yang diajarkan. Jika hasil  belajar anak baik, maka anggapan pertama terhadap anak tersebut adalah dapat menyerap pelajaran dengan baik.
             Beberapa definisi berkaitan dengan pengertian hasil belajar :
·         Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Depdikbud:1994) definisi hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu usaha, pendapatan atau perolehan.
·         “Hasil  belajar adalah hasil yang dicapai setelah seseorang melakukan usaha”(Daryanto dalam Ferry, 2003:12).
·         “Hasil  belajar adalah suatu nilai yang menunjukkan hasil tertinggi dalam belajar yang dapat dicapai menurut kemampuan seseorang dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu”(Djamarah,dalam Ferry,  2003:12).
·         Satu definisi lagi yang perlu dikemukakan disini yaitu “Hasil  belajar adalah hasil terakhir yang dicapai sebaik-baiknya dalam jangka waktu tertentu di sekolah”.(Muhibbin, Ferry 2003:12).
Jadi Hasil  belajar adalah hasil terakhir dalam belajar yang berupa nilai dalam jangka waktu tertentu. Hasil  belajar siswa perlu diketahui supaya dapat diketahui pula mutu keberhasilan pada diri siswa tersebut.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi hasil  belajar menurut Sudjana (dalam Ferry, 2003:12), dibagi menjadi dua :
·         Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa, misalnya sikap siswa, kemampuan individu, minat dan fisik maupun psikis siswa.
·         Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, misalnya guru yang mengajar, sarana dan prasarana, lingkungan sekolah, perlakuan pembelajaran terhadap siswa dan lain sebagainya.
.

2.      Pengajaran Sejarah
            Sesuai dengan ketentuan  kurikulum 2004
a.       Pengertian sejarah : adalah mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia dari masa lampau hingga kini.

b.      Tujuan dan Fungsi Mata Pelajaran Sejarah
Tujuan
Pengajaran sejarah di sekolah bertujuan agar siswa memperoleh
kemampuan berpikir historis dan pemahaman sejarah. Melalui
pengajaran sejarah siswa mampu mengembangkan kompetensi untuk
berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa
lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan proses
perkembangan dan perubahan masyarakat serta keragaman sosial budaya
dalam rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengahtengah
kehidupan masyarakat dunia. Pengajaran sejarah juga bertujuan
agar siswa menyadari adanya keragaman pengalaman hidup pada
masing-masing masyarakat dan adanya cara pandang yang berbeda
terhadap masa lampau untuk memahami masa kini dan membangun
pengetahuan serta pemahaman untuk menghadapi masa yang akan
datang.
 Pada tingkat SMA dan MA pelajaran Sejarah bertujuan:
• Mendorong siswa berpikir kritis-analitis dalam memanfaatkan
pengetahuan tentang masa lampau untuk memahami kehidupan
masa kini dan yang akan datang.
• Memahami bahwa sejarah merupakan bagian dari kehidupan seharihari.
• Mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan untuk
memahami proses perubahan dan keberlanjutan masyarakat.
Fungsi
Pengajaran sejarah berfungsi untuk menyadarkan siswa akan adanya
proses perubahan dan perkembangan masyarakat dalam dimensi waktu
dan untuk membangun perspektif serta kesadaran sejarah dalam
menemukan, memahami, dan menjelaskan jati diri bangsa di masa lalu,
masa kini, dan masa depan di tengah-tengah perubahan dunia.

c.       Ruang Lingkup
Ruang lingkup materi pengajaran sejarah di SMA dan MA disusun berdasarkan urutan kronologis yang dijabarkan dalam aspek-aspek tertentu sebagai materi standar. Sejak tahun kedua, di samping materi tertentu yang diberikan pada semua program studi sebagai pengetahuan bersama, sebagian materi pokok disusun sesuai dengan  pengkhususan program studi.
Materi pokok pengajaran sejarah di SMA dan MA meliputi:
  1. Pengantar Ilmu Sejarah.
  2. Kehidupan paling awal masyarakat di Indonesia.
  3. Naik turunnya pengaruh tradisi Hindu-Buddha di Indonesia.
  4. Perkembangan awal tradisi Islam di Indonesia.
  5. Perkembangan pengaruh Barat dan perubahan masyarakat di
  6. Indonesia pada masa kolonial.
  7. Muncul dan berkembangnya pergerakan nasional Indonesia.
  8. Interaksi Indonesia-Jepang dan keadaan Indonesia pada masa
  9. pendudukan Jepang.
  10. Perkembangan Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
  11. Perubahan di Indonesia di tengah usaha mengisi kemerdekaan.
  12. Jatuhnya Orde Baru dan reformasi.
  13. Perkembangan dunia internasional setelah Perang Dunia II dan pengaruhnya terhadap Indonesia.
  14. Peristiwa mutakhir dunia dan globalisasi.
  15. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

G. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sejarah
1. Kompetensi Kurikulum Sejarah
Terdapat delapan kompetensi umum dalam kurikulum sejarah, yaitu:
a.       Mampu menghubungkan keterkaitan antara manusia, waktu,tempat, dan kejadian sejarah.
b.      Mampu membangun konsep waktu, urutan waktu, dan menggunakannya dalam menentukan sebab-akibat suatu kejadian dan menilai perubahan dan keberlanjutan.
c.       Mampu menunjukkan peran tokoh politik, sosial, budaya,agama, ekonomi, teknologi, dan ilmu dalam menentukan bentuk dan arah suatu kelompok sosial, masyarakat, bangsa, dan dunia.
d.      Mampu menentukan asal usul suatu adat, hari besar nasional,perayaan lainnya, dan bangunan bersejarah, memelihara dan mengembangkannya.
e.       Mampu menarik informasi dan berpikir kritis-analitis tentang informasi yang diperoleh dari sumber sejarah dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
f.       Mampu memahami karakteristik berbagai peristiwa penting dalam sejarah lokal,daerah, nasional, dan internasional serta memanfaatkannya untuk mengkaji berbagai masalah kehidupan pribadi, masyarakat, dan bangsa.
g.      Membangun semangat kebangsaan yang positif, kebersamaan sebagai bangsa dan semangat persaingan yang positif dalam lingkungan kebangsaan dan antarbangsa.
h.      Mampu bertindak secara demokratis dan menghargai berbagai perbedaan serta keragaman sosial, kultural, agama, etnis, dan ideologis dalam masyarakat.
2. Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Sejarah di SMA dan MA
Kompetensi yang diwujudkan melalui mata pelajaran Sejarah di
tingkat SMA dan MA adalah:
  1. Mampu mengklasifikasi perkembangan masyarakat untuk menjelaskan proses keberlanjutan dan perubahan dari waktu ke waktu.
  2. Mampu memahami, menganalisis, dan menjelaskan berbagai aspek kehidupan seperti ilmu pengetahuan dan teknologi,lingkungan hidup, ekonomi, politik, sosial dan budaya sertapengaruhnya terhadap masyarakat di Indonesia dan dunia dari waktu ke waktu.
  3. Mampu mengidentifikasi, memahami, dan menjelaskan keragaman dalam sejarah masyarakat di Indonesia dan dunia serta perubahannya dalam konteks waktu.
  4. Mampu menemukan dan mengklasifikasi berbagai sumber sejarah dan adanya keragaman analisis serta interpretasi terhadap
  5. fakta tentang masa lalu yang digunakan untuk merekonstruksi dan mendeskripsikan peristiwa serta objek sejarah.
  6. Menyadari arti penting masa lampau untuk memahami kekinian dan membuat keputusan.

3. Pembelajaran
a.       Hakekat Pembelajaran
Pembelajarn merupakan strategi belajar yang berusaha mengembangkan seluruh potensi peserta didik dari aspek kognitif, efektif dan psikomor.

b.      Model Pembelajaran
Model pembelajarn adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum dan lain-lain ( Joyce, 1992;4)
Selanjutnya Joyce mengatakan bahwa setiap model pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai.
Adapaun Sukamto dkk mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman dalam merancang pembelajaran dalam aktifitas belajar mengajar, hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa model pembelajaran memberikan kerangka dan arah bagi guru untuk mengajar.
.

c.Pembelajaran Koperatif
Ada beberapa definisi pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh ahli pendidikan. Menurut Slavin (1995:5): Cooperative learning methods share the idea that students works together to learn and are responsible for their teammates learning as well as their own.
Definisi menurut Slavin ini dapat diartikan bahwa metode  pembelajaran kooperatif adalah saling bertukar pikiran/ide diantara pelajar yang terlibat untuk belajar dan bertanggungjawab terhadap hasil belajar anggota lainnya sebagaimana terhadap dirinya sendiri. Selain itu, Artzt dan Newman (dalam As’ari, 2000:1) mengemukakan bahwa cooperative learning is an approach that involves a small group of learners working together as a team to solve a problem, complete a task, or accomplish a common goal. Pembelajaran kooperatif adalah suatu pendekatan yang melibatkan suatu kelompok kecil siswa yang bekerja bersama sebagai satu tim untuk menyelesaikan suatu permasalahan, menyelesaikan tugas, ataupun menyelesaikan / menyempurnakan tujuan umum. Menurut Johnson (dalam Supriyadi, 1995:56) metode pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama, yakni kerja sama antar siswa dalam kelompoknya untuk mencapai tujuan belajar..
Dengan demikian, dari beberapa definisi di atas dapat dikemukakan bahwa metode pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang berorientasi pada siswa untuk melaksanakan suatu kegiatan bersama dalam kelompok-kelompok kecil(antara 3 sampai 5 orang) yang memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam hal ini setiap anggota kelompok bertanggungjawab terhadap keberhasilan diri dan anggota lainnya. Oleh karena itu setiap anggota harus saling bekerjasama dan saling membantu dalam memahami bahan pelajaran sehingga setiap anggota kelompok akan mencapai potensi optimal yang mungkin diraihnya.
Menurut Lundgren (dalam Ratumanan, 2002:109) unsur-unsur dasar yang perlu ditanamkan kepada siswa agar pembelajaran kooperatif dapat lebih efektif adalah sebagai berikut:
a.                  Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam” atau “berenang” bersama.
b.                  Para siswa memiliki tanggungjawab terhadap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggungjawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c.                  Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
d.                 Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggungjawab sama besarnya diantara para anggota kelompok.
e.                  Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f.                   Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.
g.                  Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Arends (dalam Ratumanan, 2002:110) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan yaitu:
a.                   Prestasi akademik
Belajar kooperatif sangat menguntungkan baik bagi siswa yang berkemampuan rendah maupun yang berkemampuan tinggi. Siswa berkemampuan tinggi dapat menjadi tutor bagi siswa yang berkemampuan rendah dan juga dapat menambah pengetahuannya. Sedangkan bagi siswa yang berkemampuan rendah dapat meningkatkan motivasi belajarnya sehingga nanti akan meningkatkan prestasi belajar siswa. 
b.                  Penerimaan akan keanekaragaman
  Belajar kooperatif menyajikan peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi sosial, untuk bekerja dan saling bergantung pada tugas-tugas rutin, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif dapat belajar menghargai satu sama lain.
            Jadi belajar kooperatif bertujuan mengajarkan pada siswa keterampilan-keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Dan ini adalah keterampilan-keterampilan yang penting yang harus dipunyai dalam suatu masyarakat.
d. Koperatif Tipe Student Teams-Achievement Division  (STAD)
Model pembelajaran Tipe STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya dari Universitas John Hopkins dipandang sebagai yang paling sederhana dan paling langsung di antara pembelajaran kooperatif yang lain. .STAD terdiri dari lima komponen utama, yaitu presentasi kelas, kerja tim, kuis, skor perbaikan individu dan penghargaan tim.
1.      Presentasi Kelas
Bahan ajar mula-mula diperkenalkan dalam suatu presentasi kelas. Presentasi ini paling sering menggunakan pengajaran langsung atau ceramah diskusi yang dilakukan oleh guru, namun dapat meliputi presentasi audio-visual atau kegiatan penemuan kelompok. Pada kegiatan ini siswa bekerja untuk menemukan informasi atau mempelajari konsep-konsep atas upaya mereka sendiri sebelum pengajaran guru. Presentasi kelas dalam STAD harus memfokus pada unit STAD tersebut. Dengan cara ini siswa menyadari bahwa mereka harus memperhatikan presentasi kelas, karena dengan begitu akan membantu mereka mengerjakan kuis dengan baik, dan skor kuis mereka menentukan skor tim mereka.
2.      Kerja Tim
Tim tersusun dari empat atau lima siswa yang mewakili heterogenitas kelas dalam kinerja akademik, jenis kelamin maupun suku. Fungsi utama tim adalah menyiapkan anggotanya berhasil menghadapi kuis. Setelah presentasi bahan ajar, tim berkumpul untuk mempelajari LKS atau bahan yang lain. Kerja tim merupakan ciri terpenting STAD. Pada setiap saat penekanan diberikan pada anggota tim agar melakukan yang terbaik untuk timnya, dan pada tim agar melakukan yang terbaik untuk membantu anggotanya. Tim tersebut menyediakan dukungan teman sebaya untuk kinerja akademik yang memiliki pengaruh berarti pada pembelajaran, menunjukkan saling peduli dan hormat yang memiliki pengaruh berarti bagi hasil belajar, seperti hubungan antar kelompok, harga diri dan penerimaan terhadap kebanyakan siswa.

3.      K u i s
Setelah satu sampai dua periode presentasi guru dan latihan tim, siswa dikenai kuis individual. Siswa tidak dibenarkan saling membantu selama kuis tersebut. Ini menjamin agar siswa secara individual bertanggung jawab untuk memahami bahan ajar.

4.      Skor Perbaikan Individu
Setiap siswa dapat menyumbang poin maksimum kepada timnya, namun tidak seorang siswa pun dapat melakukan seperti itu tanpa menunjukkan perbaikan atas kinerja masa lalu. Setiap siswa diberikan suatu skor dasar, yang dihitung dari kinerja rata-rata siswa pada kuis serupa sebelumnya. Kemudian siswa memperoleh poin untuk tim mereka didasarkan pada berapa banyak skor kuis mereka melampaui skor dasar mereka.
5.      Penghargaan Tim
Tim dapat memperoleh penghargaan apabila skor rata-rata mereka melampaui suatu kriteria tertentu.
Hasil penelitian Rumansyah (2002) menyimpulkan bahwa dengan pembelajaran tipe STAD aktifitas siswa meningkat, pengelolaan KBM oleh guru berjalan dengan baik, keterampilan kooperatif siswa meningkat, dan siswa menjadi lebih senang dalam belajar Matematika
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan rasa kebersamaan dalam mencapai hasil belajar yang optimal dalam kelompoknya



















BAB III
METODE PENELITIAN

A.                 SETTING PENELITIAN
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SMAN I Kwadungan Penelitian dilalkukan selama 3 minggu pada pokok bahasan.....
Dalam hal ini peneliti merasa perlu melakukan penelitian tindakan kelas di kelas tersebut karena hasil belajar siswa pada materi  .......rendah msebagian besar siswa mendapat nilai dibawah kkm
.
B.                 SUBJEK PENELITIAN
Adapun subjek Penelitian Tindakan kelas kali ini adalah siswa SMA Negeri 1 Kwadungan , Kabupaten Ngawi Kelas XI IPA I, sejumlah 30 siswa pada semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013
C.                SUMBER DATA
Sumber data dalam penelitian ini adalah Peneliti sendiri, karena peneliti sebagai Praktisi Edukatif pada sekolah teserbut, siswa, guru teman sejawat dan BP, data dari siswa berupa hasil ulangan harian, post tes tiap siklus, sedangkan dari teman sejawat diperlukan untuk mengetahui aktifitas, tingkat motivasi siswa selama proses tindakan berlangsung, sehingga data yang diperoleh tidak perlu diragukan lagi kevalidannya..


D.                VALIDASI DATA
Validasi data hasil penelitian ini berupa Hasil belajar (nilai) tes tentang pemahaman siswa terhadap persamaan kuadrat baik sebelum diberi tindakan atau sesudah diberi tindakan pada masing-masing siklus yang dilaksanakan melalui triangulasi data.  Validasi data pada proses pembelajaran dilakukian dengan metode observasi dan tes (Kuis atau post tes).
Triangulasi data hasil penelitian dilakukan dengan cara triangulasi sumber yakni dengan cara mengecek keabsahan data dari beberapa sumber yaitu guru teman sejawat, Silabus dan RPP matematika kelas X MAN Jungcangcang Pamekasan 1, sedangkan triangulasi data dilakukan dengan mengecek data dari observasi dan tes.
E.                 ANALISIS DATA
Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:
  1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:
Dengan            :      = Nilai rata-rata
                           Σ X   = Jumlah semua nilai siswa
                                       Σ N   = Jumlah siswa
2.   Untuk ketuntasan belajar
Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:
           

F.                 INDIKATOR KINERJA
Adapun indikator penelitian  ini  yang dipakai acuan dalam rangka menyusun dan mengolah data yang terkumpul sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan, maka digunakan analisis data kuantitatif dan pada metode observasi digunakan data kualitatif. Cara penghitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar sebagai berikut.
1.                  Merekapitulasi hasil tes tiap siklus
2.                  Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-masing siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika mendapatkan nilai minimal 65, sedangkan secara klasikal dikatakan tuntas belajar jika jumlah siswa yang tuntas secara individu mencapai 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%.
3.         Menganalisa hasil observasi yang dilakukan oleh guru sendiri selama kegiatan belajar mengajar berlangsung
G.                PROSEDUR PENELITIAN.
I. Rancangan Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan pembelajaran metode kooperatif tipe STAD Secara garis besar tahapan pembelajaran kooperatif STAD :
1).  Tahap  persiapan
Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan diantaranya mempersiapkan  materi dan merancang pembelajaran yang mengarah ke kooperatif STAD , membuat kriteria kelompok Heterogen ( jenis kelamin, kemampuan serta agama )  dan mempersiapkan   instrument observasi disertai cara penskoran
2).  Tahap penyajian materi
Dalam tahap ini pengajar menyebutkan  tujuan pembelajaran memotivasi rasa ingin. Tahu, memberikan apersepsi, umpan balik sesering mungkin, penjelasan yang tepat agar tidak terjadi miskonsepsi ,dan beralih  pada konsep lain, jika siswa telah memahami pokok masalahnya.
3).  Tahap kegiatan kelompok
Selanjutnya masing-masing kelompok membahas materi yang dibagikan , siswa mempelajari konsep-konsep materi Sejarah, dan mempresentasikan didepan kelas juga digunakan untuk melatih keterampilan kooperatif  siswa dalam masing-masing kelompok. Jika salah satu siswa belum memahami materi, maka teman sekelompoknya bertanggung jawab untuk menjelaskan.
4).  Tahap selanjutnya , tanggapan dari masing-masing kelompok.
5). Selanjutnya guru memberikan tanggapan dan penegasan tentang                           materi yang dibahas.
6).  Tahap tes hasil belajar
Dilakukan  1 x tes akhir setelah pertemuan, tes dikerjakan secara individu mandiri. Tes uraian dikerjakan selama 45 menit.hasil tes digunakan untuk mengetahui apakah ada peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah.
Penelitian tindakan kelas yang akan diterapkan adalah model Kemmis dan Taggard . Model ini terdiri dari siklus - sikllus yang saling berhubungan dimana tiap – tiap siklus terdiiri atas 4 tahap yaitu : perencanaan,                         pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi) dan refleksi, Bila dalam siklus 1 belum mencapai indikator yang ditargetakan maka dilanjutkan dengan siklus kedua yaitu perbaikakn rencana,tindakan,pengamatan, dan refleksi. Siklus berikutnya selalu dimulai dengan perbaikan tindakkan dari siklus sebelunmya.
Prosedure penelitian dapat digambarkan dengan skema sebagai                         Berikut :



 


da kegiatan  siklus akan dilakukan sesuai dengan tahap-tahap tersebutyai











Pada kegiatan  siklus akan dilakukan sesuai dengan tahap-tahap tersebutyaitu :
1.      Perencanaan
  • Peneliti melakukan analisis kurikulum untuk menentukan                             Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan disampaikan                             Kepada siswa  dengan menggunakan pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
  • Membuat rencana pembelajaran kooperatif tipe STAD dan lembar observasi.
  • Membuat Instrumen yang digunakan dalam siklus penelitian Tindakan kelas   / alat Bantu / media yang diperlukan
  • Membuat alat evaluasi
2.   Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah melaksanakan Skenario pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah drencanakan.
3.   Observasi
Pada tahap ini dilakukan observasi  terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi.
4.   Refleksi
Hasil yang didapat  dalam tahap observasi dikumpulkan serta dianalisis. pada tahap ini , pengajar dapat merefleksi diri berdasarkan hasil observasi dan diskusi.untuk mengkaji apakah tindakan yang telah dilakukan dapat meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran Sejarah..Hasil analis data yang dilakukan dalam tahapan akan dipergunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus berikutnya.
SIKLUS 1
      1.      Perencanaan
a. Peneliti menyiapkan bahan ajar, rencana pembelajaran (RP),skenario pembelajaran,tugas – tugas kelompok, quis dan lembar observasi


2.Pelaksanaan
a.       Siswa diberi penjelasan tentang pembelajaran kooperatif tipe STAD dan komponen – komponennya
b.      Siswa di bagi ke dalam kelompok – kelompok berdasarkan pertimbangan kemampuan akademik dan jenis kelamin.
c.       Peneliti membacakan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa dan garis besar materi sebagaimana yang tercamtum dalam RPP.
d.      Siswa ditugaskan untuk bergabung kedalam kelompoknya masing-masing
e.       Peneliti membagi tugas pada setiap kelompok
f.       Peneliti melakukan observasi dan membimbing kegiatan kelompok
g.      Setelalh kegiatan kelompok selesai ,dilanjutkan dengan diskusi kelas yang dipandu oleh guru untuk membahas hal – hal yang tidak / belum terselesaikan dalam kegiatan kelompok
h.      Peneliti memberikan quis untuk mengetahui penguasaan konsep yang dipelajari secara individual

      3.      Pengamatan
Selama pelaksanaaan peneliti melakukan observasi terhadap ketramppilan kooperatif yang dilatihkan kepada siswa dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan.
      4.      Refleksi
a.       Analisis hasil observasi mengenai :
Ketramppilan kooperatif siswa dalam melakukan kegiatan pada masing masing tahap ,hasil kegiatan kelompok dan hasil kuis individual yang ada kaitannya dengan hasil kegiatan kelompok.
Hasil – hasil yang diperoleh dan oermasalahan yang muncul pada pelaksanaan tindakakn  dipakai untuk menentukan tindakan lebih lanjut yang berupa perencanan ulalng pada siklus berikutnya
b.      Analisa beberapa kekurangan / kelemahan dari tahap perencanaan,pelaksanaan,pengamatan .
Beberapa indikator keberhasilan pada siklus I disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 3.1. Indikator keberhasilan proses pada siklus 1
ASPEK
PENCAPAIAN SIKLUS I
CARA MENGUKUR
Keaktifan siswa mengajukan pertayaan
   20 %
Diamati saat pembelajaran berlalngsung,lembar pengamatan,oleh peneliti.
Dihitung dari jumlah siswa bertanya perjumlah siswa keseluruhan
Ketepatan waktu melakukakn kegiatan eksplorasi(mengerjakan LKS)
  
Jemlah kelompok yang dapat menyelesaikan tugas tepat waktu dibagi jumlah kelompok.Dibuat jurnal setiap pertemuan
Interaksi antar siswa pada kegitan kelompok

Diamati ketika siswa melakukan diskusi,dicatat keterlibatan masing-masing siswa dalalm kelompok
Ketuntasan hasil belajar

Dihitung dari nilai rata-rata quis dan tesa blok. Siswa yang memperoleh nilai lebih besar/sama dengan 68 dinyatakan tuntas











SIKLUS 2
Pada siklus kedua dilakukan tahapan – tahapan seperti pada siklus pertama tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil – hasil yang diperoleh pada siklus pertama,sehingga kelemahan – kelemahan yang terjadi pada siklus pertama tidak terjadi poada siklus kedua.
      1.      Perencanaan
Peneliti merencanakan ulang permasalahan sesuai RPP pada pembelajaran lalu. Permasalahan yang terjadi pada siklus 1 dipelajari untuk dikembangkan pada siklus ke 2. Peneliti merencanakan membahas soal kuis  yang belum dipahami siswa.
      2.      Pelaksanaan
Setelah hasil kuis dibagikan, siswa diminta membetulkan jawabannya yang salah. Secara bergantian setiap siswa yang memiliki jawaban yang benar diminta menuliskan satu jawabannya di papan tulis, siswa yang lain mencatat untuk dipelajari agar mengetahui letak kesalahan pada jawabannya. Bila ada yang kurang jelas siswa menanyakan kepada teman sekelompoknya atau kepada guru. Setelah siswa memahami semuanya, siswa diberi soal kuis kedua yang serupa dengan kuis pertama.
      3.      Pengamatan
Peneliti mengamati dan menjaga agar pembelajaran tetap berlangsung dan berorientasi pada aktifitas siswa, berupa kegiatan pembahasan soal kuis.
      4.      Refleksi
Hasil siklus kedua dijadikan dasar untuk  menentukan langkah-langkah tindakan pada siklus berikutnya. Jika sudah terjadi peningkatan hasil belajar maka siklus dihentikan. Jika hasil belajar siswa masih dibawah standar ketuntasan belajar minimal, perlu dilakukan siklus berikutnya dengan memperhatikan hal-hal yang perlu ditingkatkan demi peningkatan hasil belajar siswa.
Proses selanjutnya adalah menganalisa hasil tersebut untuk ditarik kesimpulan terhadap hasil tindakan.
Keberhasilan siklus II diharapkan lebih baik dibanding siklus I .seperti yang tersaji pada tabel berikut ini
Tabel  3.2 Indikator keberhasilan proses siklus I dan II
ASPEK
PENCAPAIAN SIKLUS I
PENCAPAIAN SILUS II
Keaktifan siswa mengajukan pertanyaan

20 %
30 %
Ketepatan waktu melakukan kegiatan eksplorasi ( mengerjakan LKS )

60 %

80 %
Interaksi siswa pada kegiatan kooperatif

20 %

30  %
Ketuntasan hasil belajar
60 %
70 %

2.Instrumen Penelitian
         Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :
a.       Lembar observasi ketrampilan kooperatif
Instrumen observasi disusun berdasarkan komponen dasar pembelajaran model kooperatif tipe STAD
b.      Quisioner terbuka
Digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran model kooperatif tipe STAD ,

c.       Quis / tes prestasi belajar
   Digunakan untuk memngetahui kwalitas hasil belajar yang dingunakan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa. Kemampuan kognitif yang dimaksud yaitu sebelum kegiatan pembelajaran maupun setelah kegiatan pembelajaran.
Adapun yang dipakai sebagai alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes yang berupa :
·         Butir Soal Tes/siklus
·         Lembar observasi

d.      Catatan guru / jurnal.
Instrumen penelitian disajikan pada lampiran







BAB  IV
TINDAKAN, HASIL, PEMBAHASAN
Pemaparan data disajikan siklus demi siklus. Tiap siklus berisi kegiatan refleksi awal ( yang berisi tentang pendataan permasalahan, analisis sebab sebab terjadi masalah dan menetapkan jalan pemecahannya), perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan pemantauan serta refleksi pelaksanaan tindakan, namun pemaparan data dimulai dari data perencanaan tindakan, pelaksanaan dan hasil tindakan, dan diakhiri dengan refleksi dari temuan penelitian yang merupakan bentuk evaluasi dari keseluruhan pelaksanaan tindakan berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.

4.1.   Data dan Temuan Penelitian Siklus I
            Data penelitian dipaparkan menjadi empat bagian, yaitu data perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan hasil tindakan,refelksi. Data perencanaan tindakan berupa program yang disusun untuk memecahkan permasalahan. Data pelaksanaan tindakan berupa paparan tentang kegiatan dari pertemuan ke satu dan kedua. Data hasil penelitian berupa hasil observasi, hasil kuesioner dan hasil tes lisan.
            Dari data yang diperoleh kemudian dianalisa. Hal hal yang kurang  berhasil perlu mendapat perhatian pada siklus berikutnya.
4.1.1 Perencanaan Tindakan
            Siklus I terdiri dari tiga kali pertemuan. Sebelum menyusun rencana pembelajaran, melakukan identifikasi masalah dan merencanakan langkah-langkah yang akan dilaksanakan pada siklus I, Setelah  mengetahui masalah dan langkah-langkah yang akan digunakan pada tindakan di siklus I, kemudian membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Menentukan pokok bahasan yang akan dijadikan materi bahasan pada penelitian,mengembangkan skenario pembelajaran,Menyiapkan sumber belajar, Mengembangkan format evaluasi,Mengembangkan format observasi pembelajaran.  Pertemuan pertama dirancang untuk menjelaskan tehnik pembelajaran yang akan dilaksanakan, menjelaskan materi pelajaran secara ringkas/garis besar dari menyerahnya Jepang kepada Sekutu sampai pada perumusan teks Proklamasi, pembentukan kelompok heterogen yang ditetapkan oleh guru.
            Pertemuan kedua disiapkan untuk menjelaskan materi secara garis besar dari Proklamasi kemerdekaan , Penyebar luasan berita Proklamasi sampai pembentukan alat kelengkapan negara, memberikan tugas kelompok dan melakukan kerja kelompok,presentasi hasil kerja kelompok.
           Pertemuan ketiga disiapkan untuk melanjutkan presentasi hasil kerja kelompok,penegasan dari guru dari hasil presentasi,dilanjutkan quis.

4.1.2Pelaksanaan Tindakan
Siklus I,
pertemuan pertama , pada hari Sabtu tanggal ,15 Januari 2011     selama 1 X 45 menit.
dimulai dengan memberikan salam, menanyakan keadaan siswa (absensi),kebersihan kelas dan kerapian kelas kemudian mengarahkan siswa pada materi yang akan disampaikan dengan menunjukkan gambar-gambar yang berkaitan dengan peristiwa sekitar prokklamasi untuk menarik siswa mempelajari lebih lanjut,dimulai dengan menunjukkan gambar letusan bom atom Hiroshima dan Nagasaki,ditanyakan gambar apa ini,ada yang menjawab letusan bom atom, letusan gunung berapi, gumpalan awan ,gumpalan asap kebakaran karena memang gambarnya dari belakang tidak jelas hanya nampak seperti gumpalan awan,suasana kelas menjadi agak gaduh karena beragamnya jawaban siswa,tetapi segera dapat diatasi dengan penjelasan bahwa ini adalah gambar letusan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki ,kemudian ditanyakan apa akibat dari bom atom tersebut,Avivatul yang duduk dibangku paling depan dan memang dari kelas satu sangat menyukai pelajaran sejarah menjawab dengan dijatuhkannya bom atom tersebut Jepang mengalami kehancuran dan akhirnya menyerah kepada sekutu,siswa yang lain diminta untuk menyampaikan pendapatnya dan siswa yang lain menjawab banyak korban yang mati,kemudian guru menegaskan bahwa dengan dijatuhkannya bom dan jatuhnya pangkalan militer Jepang di kepulauan Saipan menyebabkakn Jepang jatuh ketangan Sekutu, hal ini teryata sangat mempengaruhi sejarah bangsa Indonesia dimulali dari persiapan yang dilakukan oleh para pemuda ,perebdaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda tentang pelaksanaan proklamasi ,kemudian ditunjukkan gambar peta Rengasdengklok,Soekarno,Hatta,Maeda dan ditayakan apa kaitan antara peristiwa diatas dengan gambar-gambar tadi,satu dua siswa mennjawab kota di dekat Cirebon,proklamator,pembuat teks proklamasitapi,prajurid Jepang ada satu yaitu Sofyan menjawab Rengasdengklok tempat diculiknya Soekarno Hatta,kemudian dijelaskan dari proses terjadinya peristiwa rengadengklok,peran Mr.Ahmad Soebarjo,sampai proses terjadinya proklamasi kemerdekaan RI, ditunjukkan copy teks proklamasi baik yang klad dan otentik ,gambar ibu Fatmawati,gambar suasana proklamasi kemerdekaan,ditayakan apa beda antara teks proklamasi yang berupa klad dan otentik,peran ibu Fatmawati dalam persiapan proklamasi kemerdekaan dan tata cara pada pelaksanaan proklamasi kemerdekaan.pada pertemuan kedua ini nampak sekali siswa mulai antusias mengikuti kegiatan pembelajaran terbukti dengan semakin banyaknya siswa yang berusaha menjawab dan menanggapi gambar yang ditunjukkan guru,rizki menjawab teks klad banyak coretannya,fajar menambahkan teks klad ditulis tangan,ida menjawab teks otentik sudah diketik dan ditandatangani Soekarno Hatta,Bagus menjawab Ibu Fatmawati istri Soekarno, Sacha menjawab Proklamasi dilakukan di halaman rumah Soekarno, ditambahkan Utin proklamasi dilakukan pagi hari setelah merumuskan teks proklamasi pertemuan dilanjutkan  dengan pembentukan kelompok untuk kegiatan berikutnya,kelas dibagi menjadi 5 kelompok yang bersifat heterogen, dengan anggota  terdiri dari 6 peserta untuk tiap kelompok,nampak sekali siswa mulali penasaran dengan kegiatan yang akan dilakukan. Dilajutkan dengan mengkondisikan siswa dalam kegiatan kelompok,dibagikan LKS-1) dan menjawab pertayaan-pertayaan yang ada pada lembar kerja ttersebut.Siswa tampak berdiskusi dalam kelompoknya dan guru berkeliling menghampiri tiap kelompok untuk memantau kalau ada kesulitan.Setelah 10 menit diminta semua kelompok berhenti bekerja dan  menyerahkan hasil diskusi,baru 2 kelompok yang benar-benar sudah selesai,kemudian hasil diskusi ditukarkan antar kelompok ,ditawarkan kepada semua kelompok untuk presenntasi kelas ,kelompok 2 mengajukan diri untuk presentasi dan kelompok yang lain menaggapi ,nampak dalam presentasi ini tidak semua anggota kelompok aktif dalam kegiatan.
Temuan pada presentasi ini diantaranya , kelompok telah mengerjakan tugas yang diberikaa, belum banyak tanggapan dari kelompok lain,harus di pancing dulu baru mau bertanya / menanggapi.Ada pertayaan menarik dari Sofyan kenapa daerah yang dipilih adalah Rengasdengklok untuk mengamankan Soekarno-Hatta. Munculnya pertayaan ini menunjukkan bahwa siswa sudah melakukan analisa secara kritis terhadap peristiwa Rengasdengklok . kelompok 2 dapat menjelaskan dengan baik pertayaan tersebut ditambah dengan penguatan dari guru. timbul masalah saat kelompok 2 menjawab soal tentang alasan dipilihnya rumah Maeda untuk merumuskan teks proklamasi,kelompok 2 tidak dapat menjelaskan dengan baik pertayaan tersebut,guru meminta kelompok yang lain membantu menjawab soal tersebut,tetap tidak ada respon akhirnya guru menjelaskan alasan dipilihnya rumah maeda adalah untuk menghindari kecurigaan sekutu dan adanya jaminan keamanan dari maeda. Ketika kelompok 2 mendiskripsikan proses proklamasi kemerdekaan untuk menjawab pertayaan no 8,Siti Fitriah mengejar dengan pertanyaan kenapa waktu proklamasi tidak ada pembacaan UUD 1945 seperti pada upacara yang lain,Bagus menambahkan kenapa waktu prokklamasi itu yang nyanyi Indonesia Raya tidak ada dirijenya,dijawab oleh Avivatul dari kelompok 2,tidak ada pembacaan UUD karena belum punya UUD dan dilanjutkan Yudi iswanto menjawab tidak ada dirijen karena sebelunya tidak ada yang ditunjuk menjadi dirijen.Setelalh kegiatan diskusi selesai ,hasil kerja kelompok yang telah diperiksa kelompok yang lain dikumpulkan,  diakhiri disajikan quis secara lisan (dikte) siswa diminta menjawab secara tertulis ,dalam pengerjaan quis siswa tidak diperbolehkan saling membantu.Kemudian diumumkan hasil kerja kelompok
Tabel 4.1.Penilkaian Kinerja Kelompok pada pertemuan 1
Kelompok
Diskusi Kelompok
Peringkat
I
77
3
II
85
1
III
83
2
IV
70
4
V
68
5
Kelompok terbaik pada pertemuan 1 adalah kelompok 2 dan terendah kellompok 5.Diperingatkan pada kelompok 5 untuk memeprbaiki kinerja pada pertemuan berikutnya.
Pertemuan kedua,
 Dimulai dengan memberikan salam,presensi,memeriksa kebersihan dan kerapian kelas, kemudian ditujukkan gambar sepeda yang tidak ada rodanya ditayakan pada siswa bagaimana kerja dari sepeda tersebut dengan kondisi seperti yang ada di gambar, yuyun menjawab sepeda tidak bisa jalan,Bagus menambahkan jalanya akan timpang karena digeret,kelas menjadi ramai karena masing – masing anak kemudian saling bersahutan menyampaikan pendapat ,kemudian guru menfokuskan jawaban tersebut dengna materi yang akan dipelajari dengan menegaskan begitu juga dengan Bangsa Indonesia baru merdeka dan belum mempunyai alat kelengkapan negara ibaratnya adalah sepeda tanpa roda,negara tidak lengkap, tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya kalaupun berjalan juga tidak dapat sempurna maka diperlukan alat kelengkapan negara,dan sesuai dengan agenda yang direncanakan tanggal 18 Agustus 1945 dimulailah persidangan PPKI untuk mmenyusun alat kelengkapan negara,sampai dengan persingan tanggal 23 Agustus 1945,pada pertemuan kedua ini nampak sekali siswa mulai antusias mengikuti kegiatan pembelajaran terbukti dengan semakin banyaknya siswa yang berusaha menjawab dan menanggapi gambar yang ditunjukkan guru,.Dari jawaban yang beragam itu kemudian diluruskan dengan menjelaskan secara singkat materi dilanjutkan   mengkondisikan untuk memulai kerja  kelompok berdasar kelompok yang sudah ditentukan.Pada masing – masing kelompok dibagikkakn LKS-2. Masing – masing kelompok diberi waktu 10 menit untuk menyelesaikan tugas sampai semua anggota memahami materi yang menjadi tugasnya.Siswa mulai mengerjakan tugas tersebut dan guru menghampiri masing – masing kelompok untuk mengawasi kerja kelompok dan mengamati siswa yang aktif dalam diskusi kelompok, kelas sedikit ramai.Setelah 10 menit berlalu diperintahkkan siswa berhenti bekerja dan menyerahkan hasil diskusinya dan menukarkan hasil diskusi dengan kelompok yang lain,dilanjutkan presentasi,kali ini yang mendapat tugas presentasi kelompok 5, timbul permasalahan ketika menjawab soal nomor 3 tentang pembentukan BKR kelompok 1 sepertinya kurang siap dan menjawab karena pemerintah belum punya prajurit dan senjata,jawaban ini teryata sangat tidak memuaskan Moh.ihksan membantahnya jelas hal itu tidak mungkin karena ketika berjang melawan Belanda dan Jepang kan juga pakai senjata dan kita punya prajurit,masing-masing mempertahankan pendapatnya dibarengi dengan emosi khas remaja sehingga kelas menjadi gaduh, baru mereda ketika kemudian ditegaskan tidak dibentuknya organisasi militer diawal kemerdekaan dikarenakan agar tidak memancing permusuhan dengan pihak asing,yang apabila itu terjadi jelas akan sangat membahayakan Indonesia yang baru berdiri yang kekuatan militernya jelas jauh dibawahnya.Setelah diskusi selesai hasil kerja kelompok yang sudah ditukarkan dengan kelompok yang lain dikumpulkan dilanjutkan dengan  quis secara lisan seperti pada pertemuan 1 untuk melihat daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan ,siswa diberi waktu 10 menit untuk mengerjakakn quis setelah itu dikoreksi bersama.Akhir pertemuan diumumkan  hasil kinerja kelompok yang dinilali dari hasil diskusi mereka serta hasil quis dari Pertemuan 1
Tabel 4.2 Hasil Quis Pertemuan 1
Rentangan
Jumlah Siswa
Prosentase
Ketuntasan
85 - 100
2
6,6
Tuntas
75 - 84
6
20
Tuntas
68 - 74
6
20
Tuntas
55 - 67
9
30
Belum Tuntas
0 - 54
7
23,3
Belum tuntas
Jumlah Siswa
30





Tabel 4.3 .Penilaian Kinerja Kelompok ,perolehan skor quis pada pertemuan 2
Kelompok
Diskusi Kelompok
Jumlah Skor 6 orang Anggota
Total Skor
Peringkat
I
70
380
450
2
II
87
470
557
I
III
78
360
438
3
IV
68
330
398
4
V
70
300
370
5
Diberitahukan bahwa pada pertemuan ke dua skor tertinggi  nilai 87 didapat oleh Avivatul Mutmainah dan Sofyan Dwi  dari anggota kelompok 2 dan 3 sedangkan skor terendah  53 didapat oleh Rizki dari kelompok 5 .Kelompok terbaik didapat kelompok  2 dan kelompok  terendah kelompok 5,diberikan penghargaan untuk kinerja kelompok terbaik dan motivasi pada kelompok yang lain
Pertemuan ketiga , hari sabtu tanggal
setelah salam dan presensi diingatkan kembali materi dari minggu sebelunya,kemudian ditujukkan gambar susana pertempuran 10 November di Surabaya,gambar ketika Bung Tomo membakar semangat arek – arek Surabaya,Gambar Sutan Syahrir,tanggapan siswa terhadap data diatas cukuptanggapan siswa terhadap data diatas cukup beragam,kelas menjadi ramai karena masing – masing anak kemudian saling bersahutan menyampaikan pendapat ,kemudian guru menfokuskan jawaban tersebut dengan materi yang akan dipelajari dengan menegaskan ini adalah salah satu gambaran dari usaha bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya dari uapaya bangsa lain yang berusaha untuk merebutnya kembali,baik yang dilakukan dengan cara perang seperti di Surabaya dengan pertempuran 10 Novembernya ,di semarang dengan pertempuran 5 hari diSemarang,di Bandung dengan Bandung lautan apinya,agar lebih terasa semangat perjuangannya siswa diminta berdiri menyanyikan lagu Halo Halo Bandung,suasana menjadi semakin bersemangat.kemudian diperintahkan untuk menempatkan diri sesuai dengan kelompoknya masing-masing.Pada pertemuan ketiga ini siswa sudah mulali agak terbiasa dengan kegiatan kelompok ,segera dibagikan LKS-3,diberikan waktu 15 menit untuk pada masing – masing kelompok untuk mendiskusikan materi yang ada pada bahan ajar LKS-3,seperti pada pertemuan ke-2 siswa nampak sangat antusias dalam mengerjakan tugas kelompok,setelah 15 menit berlalu ditanyakan apakah ada kelompok yang sudah selesai mengerjakan,hampir semua kelompok menyatakan belum selesai sepertinya permasalahan pada LKS-3 memerlukan analisa yang mendalalm untuk dapat menjawabnya,kemudian ditambahkan waktu 10 menit untuk menyelesaikan.
Setelah siswa selesai berdiskusi,dengan dipandu guru dilakukan presentasi kali ini yang mendapat kesempatan adalah kelompok 1,dengan semangat 45 kelompok 1 berusaha menjelaskan semua permasahan dari LKS – 3,timbul permasalahan ketika menjawab soal  tentang alasan pentingnya kemenangan pada pertempuran di Ambarawa, kelompok 1 sepertinya kurang siap dan menjawab karena ambarawa sangat dekat dengan ibukota propinsi Semarang yang akan membahayakan kedudukan pemerintahan,jawaban ini teryata kurang memuaskan Ika membantahnya Ambarawa merupakan markas Sekutu sehingga kakau itu jatuh ketangan Indonesia kekuatan Sekutu juga berkurang,nampak masing-masing berusaha mempertahankan pendapatnya dibarengi dengan emosi khas remaja sehingga kelas menjadi gaduh, baru mereda ketika kemudian ditegaskan kemenangan pertempuran di Ambarawa mempunyai arti penting karena apabila musuh berhasil menguasai Ambarawa maka akan memngancam tiga kota sekaligus yaitu Surakarta,Magelang,dan Yogyakarta sebagai markas tertinggi TKR. Setelah presentasi guru memberi penegasan dan penguatan hasil diskusi dilanjutkan dengan kegiatan quuis , tehnik pelaksanaan quis seperti pada pertemuan sebelumnya.hasil kerja kelompok dan quis pertemuan 2 adalah sebagai berikut.
Tabel 4.4 Rekaman skor dan peringkat kelompok pada pertemuan ke 3
Kelompok
Diskusi kelompok
Jumlah Skor 6 orang anggota
Total Skor
Peringkat
I
77
420
479
3
II
85
500
585
1
III
83
430
513
2
IV
70
380
450
4
V
68
360
428
5



 Dari tabel diatas nampak bahwa kinerja kelompok semakin bertambah baik,masing masing kelompok berusaha memperbaiki kinerjanya sehingga persaingan antar kelompok semakin ketat.Walau demikian masih harus ditingkatkakn lagi.Kemudian diumumkan pada pertemuan Sabtu depan siswa diminta untuk mempelajari materi yang sudah dibahas untuk mengadakan tes formatif.
                     

4.1.3        Hasil Tindakan
Hasil tindakan pada siklus I terlihat pada pertemuan kedua. Pada pertemuan pertama siswa masih pasif karena memang pada pertemuan pertama ini waktu lebih banyak digunakan untuk memberikan  informasi baik informasi tentang model pembelajaran yang akan diterapkan,tujuan pembelajaran yang ingin dicapai ataupun informasi materi pelajaran sesuai dengan indikator yang ingin dicapai yang tertuang  dalam RPP , baru  guru memnginformasikan teknik yang akan diterapkan dan menentukan anggota kelompok antusias siswa mulai nampak,rasa ingin tau siswa mulai kelihatan.Apalagi setelah dibagikan LKS-1 untuk dibahas dalam kegiatan kelompok,meskipun kenyataannnya dalam pengerjaan tugas kelompok awalnya mereka masih lebih banyak yang diam dengan pikirannya masing – masing mungkin karena masih malu atau enggan untuk berbicara dengan teman satu kelompoknya, beberapa kelompok nampak tidak serius terlihat hanya sekitar 2 anggota yang bekerja untu menyelesaikan tugas tersebut.Pada pertemuan kedua siswa sudah mulai agak terbiasa dengan jenis kegiatan STAD,  antusias siswa semakin besar , ketika guru mem                      bagikan lembar materi kepada masing-masing kelompok,rasa malu dan segan sudah mulai sedikit terkurangi  dengan sigap mereka berbaur untuk menyelesaikan apa yang menjadi tugas kelompok mereka, tampak mereka saling membantu sampai semua anggota dalam kelompok benar – benar memahami materi  tugas kelompoknya.Dari 5 kelompok tampak ada 2 kelompok  yaitu kelompok 4 dan 5 yang masih belum serius ,sering guyon dan berbicara masalah lain.Tetapi secara umum respon dari siswa ternyata lebih baik, terlihat dari sebagian besar kelompok yang berkata kepada guru  siap untuk  mempresentasikan hasil pembahasan dari kelompoknya masing – masing.Keaktifan siswa dalam diskusi pada awalnya memang sedikit tetapi seiring bertambahnya waktu menambah pula keberanian siswa aktif dalam kegiatan diskusi,terlihat dari data berikut ini
Tabel 4.5 Rekaman Aktifitas Diskusi Kelompok Siswa
Kelompok
Pertemuan I
Pertemuan II
Pertemuan III

A
B
C
D
A
B
C
D
A
B
C
D
I












II
1
3
2
70
1
2
4
95
1
3
4
100
III












IV












V
1
1
1









Keterangan :
A : Keaktifan siswa mengajukan pertayaan ( 3 : sangat aktif,2 : kurang aktif, 3 : tidak aktif )
B : Ketepatan waktu menyelesaikan tugas (3 = sangat tepat ,2 = kurang tepat , 1 = tidak tepat )
C : Interaksi antar siswa dalam kegiatan diskusi kelompok/kooperatif (jumlah siswa yang aktif dalam diskusi kelompok )
D :  komulatif hasil kerja kelompok.
   Hasil tes formatif pada akhir siklus I menunjukkan rentangan nilai 25 sampai 100. Lampiran nilai tes disajikan pada lampiran 2.Skor tes formatif  yang diperoleh siswa pada siklus 1 disajikan pada tabel berikut.
Tabel 4.6.Hasil Tes Siklus 1
Rentangan
Jumlah Siswa
Prosentase (%)
Ketuntasan
85 - 100
2
6.6
Tuntas
75 – 84
6
20
Tuntas
68 - 74
6
20
Tuntas
55 - 67
9
30
Belum Tuntas
0 - 54
7
23,4
Belum Tuntas
Jumlah Siswa
30


                   Disamping rekaman keaktifan siswa  dan hasil belajar pada siklus 1 dapat pula diamati bahwa selama proses pembelajaran sebagian besar siswa terlibat aktif dalam diskusi kelompok dan diskusi kelas. Dalam kelompok yang terdiri dari 6 orang anggota ,minimal 2 orang telah aktif dan paling banyak 2 orang belum aktif. Belum aktif yang dimaksud adalah ketika diskusi kelompok siswa tersebut hanya memncatat hasil diskusi tetapi belum menyampaikan pertanyaan ,ide atau pendapatnya kepada kelompok berkenaan dengan materi yang dibahas.
                     Hambatan yang dirasakan guru adalah masalah pengelolaan waktu,hal ini terjadi karena diskusi siswa yang selalu molor dari waktu yang direncanakan karena umumnya siswa tidak langsung kerja sesuai tugasnya tetapi masih asyik dengan kepentingan pribadinya di luar materi alias ngobrol sehingga waktu untuk guru dalam memberi penegasan dan pelurusan hasil diskusi minim sekali.
Gambar I
Suasana  pembelajaran pada siklus I






4.1.4 Refleksi Siklus I
  Kegiatan pembelajaran pada siklus I, pada pertemuan  1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) yang telah disisapkan sebagian besar terlaksanana tetapi mengalami hambatan bagaimana mengaktifkan siswa secara keseluruhan dalam proses pembelajaran ,tetapi pada pertemuan berikutnya keaktifan siswa mulai mengalami peningkatan.hanya saja pengelolaan waktu yang menjadi masalah  karena molor dari yang direncanakan akibat siswa tidak dapat menyelesaikan kegiatan eksplorasi (tugas kelompok) dan presentasi.
Dalam kegiatan diskusi, belum semua anggota kelompok yang terlibat. Hal ini terjadi karena sebagian siswa masih belum terbiasa mengeluarkan  pendapat ketika diskusi dimana mereka malu bertanya , takut / grogi , dominasi anggota kelompok yang pintar,terbiasa menggantungkan diri/gandul apabila ada tugas kelompok. Keadaan ini telah teratasi setelah guru memantau kegiatan kelompok dengan mengunjungi kelompok yang sedang bekerja dan mengalihkan peran kepada anggota kelompok lain sehingga tidak terjadi dominasi.Ada 4 kriteria yang digunakan untuk mengukur kinerja kelompok seperti yang tersaji pada tabel diatas,yaitu 1.keaktifan siswa mengajukan pertayaan,2.ketepatan waktu menyelesaikan tugas, 3.interaksi antar siswa dalam kegiatan diskusi kelompok, 4.hasil kerja kelompok. Pada siklus I, bila dihitung semua siswa yang bertanya pada tiga kali pertemuan maka baru 10 orang siswa (33 %) yang terlibat aktif bertanya. Tetapi bila diitinjau dari masing – masing pertemuan, maka siswa yang aktif hanya sekitar 10-15 % pada tiap pertemuan. Namun demikian kegiatan belajar dikelas tampak lebih semarak dan hidup dibandingkan tanpa kegiatan diskusi seperti pada pembelajaran sebelum kegiatan penelitian..
Dalam hal ketepatan siswa menyelesaikan pekerjaan ( diskusi dan melaporkan hasil diskusi ) tampak lambat pada pertemuan pertama dan semakin membaik pada pertemuan selanjutnya setelah disepakati adanya konsekwensi pengurangan skor kelompok babgi kelompok yang terlambat dalam pekerjaannya, tetapi teryata ada kelompok yang membagi tugas dimana satu soal dikerjakan oleh satu sampai dua siswa. Kelompok ini cepat selesai tetapi tidak sesuai dengan tujuan belajar kooperatif bahwa harus terjadi proses pemahaman terhadap semua anggota kelompok. Keadaan ini diatasi dengan meminta siswa mendiskusikan jawaban yang dibuat kepada semua anggota kelompok setelah masing – masing selesai mengerjakan.
Belum optimalnya kerja kelompok pada siklus 1 juga nampak pada interaksi antar kelompok yang belum optimal,belum semua anggota kelompok  berpartisipasi aktif,juga belum nampak adanya tutor sebaya pada proses diskusi kelas.
Hasil kerja kelompok dari tiga pertemuan  relatif baik kecuali pada kelompok 4 dan 5.Kekurangan hasil kerja kelompok terjadi karena :1.Tidak semua tugas dikerjakan 2.Kurang relevanya antara jawaban dan pertanyaan 3.Jawaban kurang lengkap atau tidak sesuai dengan permintaan dalam pertanyaan 4.Kesalahan dalam menarik kesimpulan dari data yang diperoleh.
Hasil belajar pada siklus 1  yang tersaji  pada tabel 4.4,menunjukkan bahwa hanya 46,6 % siswa yang mencapai ketuntasan  ( Skor ketuntasan Mata Pelajaran Sejarah XI IPA untuk SMA N I Kwadungan adalah 68 ).Dengan demikian masih terdapat 54,4 % siswa yang harus diberikan remidi.
Berdasarkan data pada tabel 4.4 dan 4.5 diketahui  bahwa pada siklus 1 ini beberapa target dari indikator yang telah ditetapkan dapat tercapai,seperti yang terangkum dalam tabel dibawah ini
Tabel 4.7.Ketercapaian Indikator pada siklus 1
Aspek
Target pada Siklus 1
Pencapaian Pada Siklus I
Keaktifan siswa mengajukan pertayaan
20 %
20 %
Ketepatan waktu melakukan kegiatan(mengerjakan LKS)
50 %
66 %
Interaksi antar siswa pada kegiatan kooperatif
25 %
20%
Ketuntasan hasil belajar
68 %
60 %

Berdasar kan ketercapaian target tersebut tampak bahwa pada siklus I kwalitas proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik tetapi kwalitas hasil belajar belum memuaskan karena hampir separo dari jumlah siswa belum mencapai ketuntasa minimum.
Berdasar hasil capaian tersebut maka perlu dilakukan perubahHasil observasi dan reflekan pada pelaksanaan siklus berikutnya, yang perlu diperhatikan                   Sebagai rencana tindakan siklus berikutnya adalah :
  • siswa masih ada yang lebih suka untuk berpikir sendiri,kurang tertarik untuk berbagi ide, gagasan atau pendapat dengan temannya.Sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD,tetapi ada juga yang lebih senang dan antusias dalam belajar. Hal ini bisa dilihat dari hasil observasi terhadap aktivitas siswa dalam PBM hanya mencapai 69 %.
  • Guru perlu memberi stimulus pada kelompok yang lamban, Sehingga waktu dapat digunakan dengan seefisien.
  • Aktifitas guru dalam kegiatan belajar mengajar masih tergolong rendah dengan perolehan skor 27 atau 61,36% sedangkan skor Idealnya adalah 40.Hal ini terjadi karena lebih banyak berdiri didepan kelas dan kurang memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana melakukan pembelajaran kooperatif tipe STAD.                         
Untuk memperbaiki kelemahan dan mempertahankan keberhasilan                   yang telah dicapai pada siklus I, maka pada pelaksanaan siklus kedua                   dapat dibuat perencanaan sebagai berikut :
1.      memberikan motivasi kepada kelompok siswa agar lebih aktif lagi dalam pembelajaran
2.      Guru lebih intensif membimbing kelompok siswa yang mengalami kesulitan
3.      memberikan penghargaan kepada siswa ( reward )sehingga akan mendorong siswa yang lain untuk berprestasi.




B.   DESKRIPSI TINDAKAN DAN HASIL SIKLUS II
4.1.1 Perencanaan Tindakan
            Siklus II terdiri dari tiga kali pertemuan. Sebelum menyusun rencana pembelajaran, melakukan identifikasi masalah dan merencanakan langkah-langkah yang akan dilaksanakan pada siklus II,berdasar pada temuan yang didapat dari siklus I. Setelah  mengetahui masalah dan langkah-langkah yang akan digunakan pada tindakan di siklus II, kemudian membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Menentukan pokok bahasan yang akan dijadikan materi bahasan pada penelitian,mengembangkan skenario pembelajaran,Menyiapkan sumber belajar, Mengembangkan format evaluasi,Mengembangkan format observasi pembelajaran.  Pertemuan pertama dirancang untuk menjelaskan materi kehidupan ekonomi Indonesia di awal kemerdekaan. Penyampaian materi secara ringkas/garis besar,dilanjutkan dengan penugasan kelompok,presentasi dan quis.
            Pertemuan kedua disiapkan untuk menjelaskan materi secara garis besar keadaan politik banngsa Indonesia di awal kemerdekaan,memberikan tugas kelompok dan melakukan kerja kelompok,presentasi h.asil kerja kelompok.
           Pertemuan ketiga disiapkan untuk mengadakan tes blok untuk mengetahui daya serap siswa dari materi yang telah tersampaikan.

4.1.2Pelaksanaan Tindakan
Siklus II
pertemuan pertama , pada hari Sabtu tanggal    12 pebruari 2011, 1 X 45 menit.
dimulai dengan memberikan salam, menanyakan keadaan siswa (absensi),kebersihan kelas dan kerapian kelas kemudian mengarahkan siswa pada materi yang akan disampaikan dengan menunjukkan gambar-gambar mata uang kuno,respon siswa sangat luar biasa,efi menanggapi dengan ilmu ekonomi katanya nilainya sangat rendah,bagus menambahkan bahan baku uang bagus terbukti sudah lama masih bagus,Dari jawaban beragam guru memfokuskan pada materi dengan menagjukan pertayaan kalau nilai mata uang rendah bagaimana dengan daya beli masyarakat,bagaimana dengan keadaan ekonominya,siswa mulai fokus pada materi yang dimaksudkan ,Avivatul menjawab daya beli masyayrakat rendah,Sacha menambahkan ekonomi buruk masyarakat menderita,baru kemudian dijelaskan kondisi ekonomi Indonesia di awal kemerdekaan ,apa yang memnjadi oenyebab buruknya kondisi ketika itu dan langkah apa saja yang telah ditempuh pemerintah untuk mengatasi keadaan tersebut,selesai menyajikan materi dilajutkan dengan mengkondisikan siswa dalam kegiatan kelompok,siswa sudah mulai terbiasa dengan kegiatan ini terbukti dengan sigap mereka segera menempatkan diri sesuai dengan kelompoknya masing – masing,dibagikan LKS- 4 dan mulailah kegiatan kelompok dilaksanakan .Siswa tampak berdiskusi dalam kelompoknya dan gurulebih intensifmemantau kegiatan  kelompok ini  untuk mengantisipasi mengurangi kekurangan seperti pada siklus I.Setelah 15 menit diminta semua kelompok berhenti bekerja dan  menyerahkan hasil diskusi ,kemudian hasil diskusi ditukarkan antar kelompok ,ditawarkan kepada semua kelompok untuk presenntasi kelas ,kelompok 3 akhirnya mendapat tugas untuk  presentasi dan kelompok yang lain menaggapi ,nampak dalam presentasi ini  semua anggota kelompok mulai aktif dalam kegiatan.
Temuan pada presentasi ini diantaranya , kelompok telah mengerjakan tugas yang diberikaa, ada tanggapan dari kelompok lain,pertayaan menarik dari Sofyan kenapa untuk menagani keadaan ekonomi waktu itu justru yang ditempuh adalah mengadakan pinjaman nasional seperti yang diusulkan oleh Ir,Surahman Munculnya pertayaan ini menunjukkan bahwa siswa sudah melakukan analisa secara kritir terhadap peristiwa tersebut . kelompok 3 belum dapat menjelaskan dengan baik pertayaan tersebut sehingga perlu ditambah dengan penguatan dari guru bahwa pinjamamn nasional yang diusulkan oleh Ir.Surahman tujuannnya adalah untuk menarik kembali mata uang yang beredar di masyarakat yang dinilai berlebihan sehingga menyebabkan terjadinya inflasi,maka dengan program ini diharapkan inflasi dapat ditekan sehingga perekonomian juga semakin membaik.Setelah kegiatan diskusi selesai ,hasil kerja kelompok yang telah diperiksa kelompok yang lain dikumpulkan,  diakhiri disajikan quis secara lisan (dikte) siswa diminta menjawab secara tertulis ,dalam pengerjaan quis siswa tidak diperbolehkan saling membantu.Untuk memperbaiki program di siklus I maka soal quis yang sudah dikerjakan dibagikan ke siswa sehingga bagi siswa yang belum memahami dapat menanyakan kepada temannya sampai megertiKemudian diumumkan hasil kerja kelompok
Tabel 4.1.Penilkaian Kinerja Kelompok pada pertemuan 1
Kelompok
Diskusi Kelompok
Peringkat
I
80
3
II
88
1
III
85
2
IV
77
4
V
73
5
Kelompok terbaik pada pertemuan 1 tetap kelompok 2 dan terendah kellompok 5.tetapi kelihatan sekali kalau masing masing kelompok sudah memperbaiki kinerja kelompoknya,sehingga skornya memngalami peningkatan.
Pertemuan kedua,Sabtu 19 Pebruari 2011
 Dimulai dengan memberikan salam,presensi,memeriksa kebersihan dan kerapian kelas,ditunjukkan Gambar gambar partai politik,tokoh – tokoh politik, siswa sangat antusias sekali menanggapi ,tanpa diminta mereka saling bersahutan mengemukakan pendapat,yuyun  komentar gambar kontestan pemilu bu,Baggus malah komentar wah bu Hadi mau kampaye, terlebih yudi bilang bu hadi mau ganti profesi jadi anggota dewan ya bu.Diluruskan dengan menjelaskan bahwa gambar ini bukan dipakai untuk kanpanye karena mau nyalon dewan tetapi karena kita mau membahas keadaan politik di Indonesia sejak proklamasi,diuraikan materi secara singkat dari awal kemerdekaan dimana belanda masih berusaha menguasai Indonesia,kemudian ketika mnasa demokrasi liberal yang identik dengan sering terjadinya pergantian kabinet,masa demorasi terpimpin yang identik dengan dominasi faham komunis di Indonesia dan penafsiran yag keliru dari kata terppimpin oleh presiden Soekarno.siswa sepertinnya puas dengan penjelasan singkat ini terbukti tidak ada menyanggahnya lagi, dilanjutkan   mengkondisikan untuk memulai kerja  kelompok berdasar kelompok yang sudah ditentukan.Pada masing – masing kelompok dibagikkakn LKS-6,berisi permasalahan berkaitan denngan materi mulai mengerjakan tugas tersebut dan guru menghampiri masing – masing kelompok untuk mengawasi kerja kelompok dan mengamati siswa yang aktif dalam diskusi kelompok, kelas sedikit ramai.Setelah 10 menit berlalu diperintahkkan siswa berhenti bekerja dan menyerahkan hasil diskusinya dan menukarkan hasil diskusi dengan kelompok yang lain,dilanjutkan presentasi,kali ini yang mendapat tugas presentasi kelompok 5,timbul masalah saat kelompok 5 menjawab soal no 3,kelompok 5 tidak dapat menjelaskan dengan baik pertayaan tersebut,guru meminta kelompok yang lain membantu menjawab soal tersebut,tetap tidak ada respon akhirnya guru menjelaskan alasan dipilihnya rumah maeda adalah untuk menghindari kecurigaan sekutu dan adanya jaminan keamanan dari maeda. Ketika kelompok 5 mendiskripsikan proses proklamasi kemerdekaan untuk menjawab pertayaan no 4,Siti Fitriah mengejar dengan pertanyaan kenapa waktu proklamasi tidak ada pembacaan UUD 1945 seperti pada upacara yang lain,Bagus menambahkan kenapa waktu prokklamasi itu yang nyanyi Indonesia Raya tidak ada dirijenya,dijawab oleh Avivatul dari kelompok 2,tidak ada pembacaan UUD karena belum punya UUD dan dilanjutkan Yudi iswanto menjawab tidak ada dirijen karena sebelunya tidak ada yang ditunjuk menjadi dirijen.Setelah diskusi selesai hasil kerja kelompok yang sudah ditukarkan dengan kelompok yang lain dikumpulkan dilanjutkan dengan  quis secara lisan seperti pada pertemuan 1 untuk melihat daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan ,siswa diberi waktu 10 menit untuk mengerjakakn quis setelah itu dikoreksi bersama.Akhir pertemuan diumumkan  hasil kinerja kelompok yang dinilali dari hasil diskusi mereka serta hasil quis dari Pertemuan 1
Tabel 4.2 Hasil Quis Pertemuan 1
Rentangan
Jumlah Siswa
Prosentase
Ketuntasan
85 - 100
4
13,3
Tuntas
75 - 84
6
20
Tuntas
68 - 74
8
26,6
Tuntas
55 - 67
8
26,6
Belum tuntas
0 - 54
4
13,3
Belum tuntas
Jumlah Siswa
30





Tabel 4.3 .Penilaian Kinerja Kelompok ,perolehan skor quis pada pertemuan 2
Kelompok
Diskusi Kelompok
Jumlah Skor 6 orang Anggota
Total Skor
Peringkat
I
83
400
483
3
II
87
470
557
I
III
85
430
515
2
IV
76
370
446
4
V
70
380
450
5
Diberitahukan bahwa pada pertemuan ke dua skor tertinggi  nilai 87 didapat oleh Avivatul Mutmainah dan Sofyan Dwi  dari anggota kelompok 2 dan 3 sedangkan skor terendah  53 didapat oleh Rizki dari kelompok 5 .Kelompok terbaik didapat kelompok  2 dan kelompok  terendah kelompok 5,diberikan penghargaan untuk kinerja kelompok terbaik dan motivasi pada kelompok yang lain
Dari quis yang diberikan setelah kegiatan  pada pertemuan ini(data pada tabel diatas ) hasil ketuntasan belajar lebih tinggi dari siklus I. Dan dari kuesioner yang diberikan kepada siswa terhadap penggunaan metode kooperatif tipe STAD  diperoleh data  sebagai berikut ;

No
Pernyataan Kuesioner
Jmlh Siswa Setuju
Prosentase
1
Siswa merasa senang ketika  mengikuti kegiatan pembelajaran dikelas dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD.

26

86 %
2
Penggunaan metode kooperatif tipe STAD. memudahkan
siswa mengungkapkan pendapat.

25

83%
3
Dengan penggunaan metode kooperatif tipe STAD. menumbuhkan minat siswa untuk belajar sejarah.
27

90%

4
Metode pembelajaran  yang dipilih  mudah digunakan/dilaksanakan.

26

86%
5
Metode kooperatif tipe STAD. yang digunakan sesuai dengan materi yang diajarkan guru.

23

76%
6
Dengan menggunakan metode kooperatif tipe STAD.waktu yang digunakan lebih singkat
21
70%
7
Siswa merasa santai dan rileks dalam  melakukan  kegiatan pembelajaran
27
90%
8
Siswa merasa senang bila pertemuan yang akan datang masih menggunakan metode kooperatif tipe STAD.
29
96%

Dari data tersebut jelaslah bahwa metode kooperatif tipe STAD.disenangi oleh siswa, hamper seluruh siswa merasa senang dengan penggunaan metode kooperatif tipe STAD.. Mereka juga merasa lebih mudah dan berminat dalam menyampaikan pendapat. Disamping itu mereka juga berharap untuk pertemuan selanjutnya juga menggunakan metode yang sama. Hal penting lainnya adalah bahwa mereka merasa rileks dalam proses pembelajaran, sehingga perolehan belajar terjadi tanpa sadar. Secara teori belajar tanpa sadar akan lebih kuat dipikiran siswa.

Pertemuan ketiga , hari sabtu tanggal 26 pebruari
setelah salam dan presensi,  mengecek kesiapan siswa untuk mengikuti ujian blok sesuai dengan perencanaan, diingatkan agar siswa bersaing secara sportif,junjung tinggi kejujuran.Mengkondisikan siswa untuk mengikuti ujian blok secara jujur dan sportif dengan memindahkan tempat duduk awal diacak di pasangkan dengan temammn yang baru..Soal dibagikan dan siswa siap menjawab secara tertulis, mamndiri,jujur.

Tabel 4.8  Skor Hasil Ujian Blok Sikllus II
Rentangan
Jumlah Siswa
Prosentase
Ketuntasan
85 - 100
5
16,6
Tuntas
75 - 84
8
26,6
Tuntas
68 - 74
8
26,6
Tuntas
55 - 67
4
13,3
Belum tuntas
0 - 54
4
13,3
Belum tuntas
Jumlah Siswa
30



1 siswa tidak mengikuti ujian blok karena sakit

4.1.4        Hasil Tindakan

Hasil tindakan pada siklus II menunjukkan peningkatan baik pada pertemuan 1 ataupun pada pertemuan 2, rasa malu atau enggan untuk berbicara dengan teman satu kelompoknya,takut mengemukakan pendapat sepertinya sudah mulai dihindarkan,begitu juga dengan kelompok 4 dan 5 yang pada pertemuan – pertemuan sebelumnya nampak terlihat tidak serius pada siklus 2 hanya sekitar 2 anggota yang belum mau bekerja untuk menyelesaikan tugas tersebut. siswa sudah mulai  terbiasa dengan jenis kegiatan STAD,  antusias siswa semakin besar , ketika guru mem                      bagikan lembar materi kepada masing-masing kelompok,  dengan sigap mereka berbaur untuk menyelesaikan apa yang menjadi tugas kelompok mereka, tampak mereka saling membantu sampai semua anggota dalam kelompok benar – benar memahami materi  tugas kelompoknya.Sehingga ketika ditawarkan siapa yang siap untuk presentasi semua kelompok berkata   siap untuk  mempresentasikan maka jalan tengahnya untuk menunjukkan keadilan dan ketidakberpihakan guru pada salah satu kelompok diputuskan yang diutamakan presentasi adalah kelompok yang belum presentasi dulu,baru kalau semua kelompok sudah presentasi maka semua kelompok punya hak yang sama untuk poresentasi lagi.Keaktifan siswa dalam diskusi yang pada awalnya memangsangat minimhanya mau bertanya dan menanggapi apabila sudah dipancing oleh guru dan selalu didominasi oleh orang – orang tertentu sudah tidak lagi,masing-masing  siswa nampak bersemangat untuk mengajukan pertanyaan ataupun mempertahankan pendapatnya bahkan saking seriusnya emosi khas remajapun muncul.keaktifan  siswa dalam kegiatan diskusi,terlihat dari data berikut ini
Tabel 4.5 Rekaman Aktifitas Diskusi Kelompok Siswa
Kelompok
Pertemuan I
Pertemuan II


A
B
C
D
A
B
C
D




I












II
1
3
2
70
1
2
4
95




III












IV












V












Keterangan :
A : Keaktifan siswa mengajukan pertayaan
B : Ketepatan waktu menyelesaikan tugas (3 = sangat tepat ,2 = kurang tepat , 1 = tidak tepat )
C : Interaksi antar siswa dalam kegiatan diskusi kelompok/kooperatif (jumlah siswa yang aktif dalam diskusi kelompok )
D :  komulatif hasil kerja kelompok.
   Hasil tes blok pada akhir siklus II menunjukkan rentangan nilai 55 sampai 90. Lampiran nilai tes disajikan pada lampiran .Skor tes blok  yang diperoleh siswa pada siklus 2 disajikan pada tabel berikut.
Tabel 4.6.Hasil Tes Siklus 2
Rentangan
Jumlah Siswa
Prosentase
Ketuntasan
85 - 100
5
16,6
Tuntas
75 - 84
8
26,6
Tuntas
68 - 74
8
26,6
Tuntas
55 - 67
4
13,3
Belum tuntas
0 - 54
4
13,3
Belum tuntas
Jumlah siswa
30


    Satu siswa tidak mengikuti tes karena sakit   

           Disamping rekaman keaktifan siswa  dan hasil belajar pada siklus 2 dapat pula diamati bahwa selama proses pembelajaran sebagian besar siswa terlibat aktif dalam diskusi kelompok dan diskusi kelas. Dalam kelompok yang terdiri dari 6 orang anggota hampir semua anggota terlihat aktif,terbanyak dari kelompok 5 sampai pada pertemuan 2 terlihat 2 orang belum aktif. Belum aktif yang dimaksud adalah ketika diskusi kelompok siswa tersebut hanya memncatat hasil diskusi tetapi belum menyampaikan pertanyaan ,ide atau pendapatnya kepada kelompok berkenaan dengan materi yang dibahas,dan memang kemampuan anak tersebut pada semua mata pelajaran dibawah rata – rata temanya.
                     Hambatan yang dirasakan guru adalah masalah pengelolaan waktu,hal ini terjadi karena diskusi siswa yang selalu molor dari waktu yang direncanakan kalau sebelunmya karena umumnya siswa tidak langsung kerja sesuai tugasnya tetapi masih asyik dengan kepentingan pribadinya di luar materi alias ngobrol sehingga waktunya banyak tersita pada pengerjaan kelompok ,untuk siklus 2 molornya waktu lebih banyakj dikarenakan alotnya perundingan yang ada karena masing – masing siswa berusaha mempertahankan pendapatnya .






4.1.4 Refleksi Siklus II
  Kegiatan pembelajaran pada siklus II, pada pertemuan  1 dan 2  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) yang telah disisapkan  terlaksanana , hambatan utama untuk mengaktifkan siswa secara keseluruhan dalam proses pembelajaran sudah dapat diatasi bahkan sepertinya siswa sangat menikmati sekali dengan proses pembelajaran ini,mereka berlomba – lomba untuk menunjukka kemampuannya , dominasi falam kegiatan diskusi juga sudah sedikit sekali.Bila dihitung siswa yang bertanya pada dua kali pertemuan di siklus II ini sudah sekitar 23 orang siswa (76 %) yang terlibat aktif bertanya. Tetapi bila diitinjau dari masing – masing pertemuan, maka siswa yang aktif  sekitar 45 – 46  % pada tiap pertemuan. Dengan diterapkannya metode STAD ini kegiatan belajar dikelas tampak lebih semarak dan hidup ,tercipta interaksi antara siswa dan guru dalam proses pembelajaran.
Dalam hal ketepatan siswa menyelesaikan pekerjaan ( diskusi dan melaporkan hasil diskusi ) antara satu kelompok dan kelompok yang lain bersaing untuk lebih dulu mengumpulkan karena takut  adanya konsekwensi pengurangan skor kelompok babgi kelompok yang terlambat dalam pekerjaannya,  kelompok yang biasa membagi tugas dalam pengerjaan sudah menerappkan aturan tutor sebaya dimana masing – masing anak yang mengerjakan berkewajiban menjelaskan hasil pekerjaannya tersebut kepada anggota kelompok yang lain sehingga  tujuan belajar kooperatif tetap dapat tercapai
Berdasarkan data pada tabel 4.4 dan 4.5 diketahui  bahwa pada siklus 1 ini beberapa target dari indikator yang telah ditetapkan dapat tercapai,seperti yang terangkum dalam tabel dibawah ini
Tabel 4.7.Ketercapaian Indikator pada siklus 1
Aspek
Target pada Siklus 1I
Pencapaian Pada Siklus II
Keaktifan siswa mengajukan pertayaan
20 %
30 %
Ketepatan waktu melakukan kegiatan(mengerjakan LKS)
50 %
80 %
Interaksi antar siswa pada kegiatan kooperatif
25 %
30 %
Ketuntasan hasil belajar
68 %


Berdasar kan ketercapaian target tersebut tampak bahwa pada siklus II kwalitas proses pembelajaran telah berlangsung dengan baik  dan kwalitas hasil belajar sudah memuaskan karena lebih dari separo dari jumlah siswa sudah mencapai ketuntasa minimum.

D.    PEMBAHASAN  HASIL  PENELITIAN
Setelah diamati dan didiskusikan serta dilakukan refleksi                              selama pelaksanaan penelitian tindakan dilapangan, maka dapatlah                              dipaparkan temuannya sebagai berikut :
1.   Kemampuan siswa masih relative rendah dapat diupayakan dengan melakukan pembelajaran kooperatif melalui pendekatan tipe STAD . Siswa pada mulanya terlihat masih binggung dan canggung untuk berinteraksi dengan temannya sehingga pada siklus I, hasilnya belum memuaskan.guru tidak memiliki cukup waktu untuk melaksanakan seluruh scenario tindakan. Baru pada siklus ke II strategi dirancang ulang, sehingga siswa dikelompokkan dalam kelompok yang lebih heterogen tadinya dalam siklus I masih ada kelompok yang lemah . Pada siklus ke II telihat kecanggungan untuk berinteraksi dan berbagi ide  mulai terlihat lebih baik.Disamping itu guru  lebih aktif untuk mengontrol aktivitas kelompok.Sehingga mereka lebih serius dalam memikirkan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
.
2.   Setiap akhir siklus diakhiri dengan tes berupa ulangan harian.
Dari data yang ada yang tersaji dalam tabel diatas menunjukkan nilai rata-rata ulangan harian tiap siklus mengalami kenaikan .





BAB V
SIMPULAN  DAN  SARAN

A.   SIMPULAN
Berdasarkan data, analisis data dan pembahasan tentang                             upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman siswa                             melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat disimpulkan                             sebagai berikut :
1.Pembelajaran koopeaif tipe STAD ternyata efektif dapat                            meningkatkan pemahaman siswa kelas XI IPA I                                 SMA N I Kwadungan tahun pelajaran 2010/2011. Secara deskripsi diperoleh hal-hal                                 sebagai berikut :
·         Dari hasil belajar siswa diperoleh 60%  ( 26 siswa dari 42 siswa )  memperoleh skor nilai diatas rata-rata.
·         Rata-rata nilai ulangan pada siklus II naik sebesar  0,53 %  dibanding kan rata-rata nilai ulangan  siklus I.
·         Rata- rata nilai ulangan pada siklus III naik sebesar  1,02 % di  dibandingkan dengan rata-rata nilai ulangan siklus  II.
·         Dari hasil observasi dikelas, menunjukkan bahwa siswa yang  berkemampuan tinggi terlihat lebih aktif dan antusias, sehingga  memunculkan kerjasama serta mau berinteraksi, saling membantu  serta berbagi pendapat, mau mendengarkan pendapat teman dalam menyelesaikan tugas.Dari 5 kelompok , 80 % dapat  menyelesaikan dengan baik dan sesuai dengan waktu yang telah  ditentukan.
·         Melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD , siswa membagun  sendiri pengetahuan, menemukan langkah-langkah dalam mencari  penyelesaian darisuatu materiyang harus dipahami dan dikuasai  oleh siswa, baik secara individu maupun kelompok.
·         Dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD , pembelajaran Sejarah  Lebih menyenangkan,tidak ada lagi anggapan belajar sejarah berarti ngantuk karena membahas masalah basi ( sudah berlalu )
·         Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan  pemahaman dan aktivitas proses belajar mengajar.


B.  SARAN
1.      Dalam kegiatan belajar mengajar guru diharapkan menjadikan               pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai suatu alternatif                                  dalam mata pelajaran sejarah untuk meningkatkan pemahaman,                                  aktivitas serta hasil belajar siswa .
2.      Karena kegiatan ini sangat bermanfaat khususnya bagi guru                                  dan siswa, maka diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan                                  secara berkesenambungan dalam pelajaran sejarah maupun mata                                  pelajaran lainnya.
3.      Dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD                                  guru harus benar-benar memahami langkah-langkahnya, dan                                  dapat mengelola waktu seoptimal mungkin. Peran guru sebagai                                  fasilitator menjadi sangat penting.    
                          
                                




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar