Menulislah! Maka sejarah akan mencatat, mengingat dan mengenangmu...

hadisrisejarahkwd.blogspot.com

Selasa, 05 Februari 2013

MODUL PEMBELAJARAN SEJARAH KELAS XII IPS SEMESTER I I SMAN 1 KWADUNGAN



 






Guru Bidang Studi :
Dra HADI SRI SUHARTI ERNANINGSIH
NIP.19680526 199802 2 004



SMA NEGERI 1 KWADUNGAN
Tahun Pelajaran 2012/2013








HALAMAN PENGESAHAN
MODUL PEMBELAJARAN SEJARAH
KELAS XII IPS SEMESTER II
SMAN 1 KWADUNGAN 



1.      Penyusun                              : 
a.       Nama Lengkap               :  Dra. HADI SRI SUHARTI ERNANINGSIH
b.      Jenis Kelamin                 :  Perempuan
c.       Pangkat/Gol                   :  Pembina / IV A
d.      N I P                              :  19680526 199802 2 004
e.       Mata Pelajaran               :  Sejarah
f.       Sekolah                          :  SMA NEGERI 1 KWADUNGAN  NGAWI

3.   Penggunaan Modul              : Modul ini untuk digunakan di
Kelas XII IPS SEMESTER II SMAN 1
Kwadungan Tahun Pelajaran 2012/2013 
                                                           

           

                                                                          Ngawi,  September 2012
Mengetahui:                                                                      
Kepala SMAN 1 Kwadungan                           Penyusun,



Drs.  SUWARTOYO, M.Pd                            Dra. HADI SRI SUHARTI E.
NIP.19570721 198403 1 003                NIP.19680526 199802 2 004     






ii
KATA  PENGANTAR



Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan rahmatnya  penyusunan Modul Pembelajaran Sejarah SMAN 1 KWADUNGAN   Kelas XII IPS Semester 2 SMA Negeri 1 Kwadungan  Tahun Pelajaran  2008/2009, dapat diselesaikan.
Penyusunan  ini dimaksudkan untuk memberikan materi tambahan kepada peserta didik agar peserta didik dapat dengan mudah memahami  dalam mempelajaran sejarah..,
Penyusun  sangat menyadari bahwa dalam penyusunan  ini dapat diselesaikan berkat dengan baik atas bantuan dan motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penyusun  menyampaikan ucapan terima kasih yang setulusnya kepada pihak-pihak yang telah membantu, terutama kepada :
1.      Bapak Purwahyudi ,M.Pd   Kepala SMA Negeri 1 Kwadungan 
2.      Pihak-pihak lain yang namanya tidak disebutkan.
Akhirnya, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat Konstruktif untuk menyempurnakan modul  ini. Harapan kami semoga Modul Pembelajaran  ini bermanfaat.
Ngawi,      September 2013
Penyusun,



Dra. HADI SRI SUHARTI E.
NIP : 19680526 199802 2 004











Iii
DAFTAR  ISI                                                                                                                                                .                                                                                                              Halaman
HALAMAN JUDUL …………………………………………………..…….
i
HALAMAN PENGESAHAN ………………..……………………….……..
ii
KATA PENGANTAR …………………………..…………………………...
iii
DAFTAR ISI…………………………………………………………….…... 
iv


MATERI POKOK I….…………………………………………..…………..                                 
A.    Menata Kehidupan politik dan Ekonomi…………………. …… ………. 
  1. Kehidupan Politik …………………………………………..……….
  2. Pemilihan Umum Tahun 1955………………………………………..
  3. Nasionalisme Ekonomi………………………………………………
  4. Gangguan Kemanan Dalam Negeri………………………………….
1
1
1
4
5
12
MATERI POKOK II………………………………………...…….................
A.    Menggalang Kerjasama Internasional dan Solideritas Antar Bangsa……
B.     Konferensi London Tentang Terusan Zues….……..………...………….
C.     Pengiriman Pasukan Daruda………………..……………… …………..

20
20
22
24

MATERI POKOK III………………….……….……..……………………..
A.    Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan Pelaksanaan Demokrasi terpimpin …….
  1. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 ………………………………………...
  2. Pelaksanaan Demokrasi terpimpin …..……………………………...
  3. Perjuangan Pembebasan Irian Barat………………………………….

27
27
27
29
33
MATERI POKOK IV..……………….……….……..……………………..
A.    Wacana……………………………..……………………….………….
  1. Kekuatan Negara-Negara Adi Kuasa……………..……………………...
B.     Perubahan Ekonomi Setelah Perang Dunia ke II……………….……………
C.     Perang Dingin dan Dampaknya Bagi Dunia…………………………………

39
39
39
41
42
MATERI POKOK V..……………….……….……..…….……………….….....
  1. Wacana…………………………………….………………….………….
  1. Gerakan Non Blok……………………………………………………….
  2. ASEAN…………………………………………………………………..
  3. Organisasi Konferensi Islam. ( OKI )……………………………………
  4. Masyarakat Ekonomi Eropa……………………………………………...
  5. APEC…………………………………………………………………….

45
45
45
48
51
52
53
DAFTAR   PUSTAKA  ……………………………………………………
MATERI POKOK I

Berawal dari pengakuan Kedaulatan Indonesia memasuki masa demokrasi liberal di Indonesia ditandai oleh Prestasi Politik dan Kemelut politik. Prestasi politik berupa pemberlakuan sistem multipartai dan penyelenggaraan Pemilu yang demokratis kemelut politik berupa kabinet yang silih berganti dan sejumlah pemberontakan yang mengakibatkan gangguan keamanan dalam negeri.

A.    Menata Kehidupan Politik dan Ekonomi
  1. Kehidupan Politik
Sistem Pemerintahan
Dengan disetujuinya Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tanggal 2 November 1949 maka terbentuklah Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS ternyata tidak bertahan lama karena tidak mendapat dukungan dari rakyat dan sebagian besar anggota Kabinet RIS adalah orang-orang Republik. Pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS dibubarkan dan kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan berdasarkan Undang-undang Dasar Sementara. (UUDS) 1950.
Pada waktu negara kita menganut sistem demokrasi parlementer dalam pelaksanaan demokrasi liberal (1950 - 1959) terdapat tujuh buah kabinet yang memegang pemerintahan, sehingga rata-rata setiap terjadi pergantian kabinet. Oleh karena tiap-tiap kabinet  tidak berumur panjang, maka programnya tidak dapat dilaksanakan. Hal inilah yang kemudian menimbulkan instabilitas baik di bidang politik, sosial, maupun keamanan.

Kabinet-kabinet pada masa demokrasi liberal :
a.   Kabinet Natsir (6 September 1950 - 21 Maret 1951)
1)    Menggiatkan usaha mencapai keamanan dan ketenteraman
2)    Konsolidasi dan menyernpurnakain susunan pemerintahar
3)    Menyempurnakan organisasi angkatan Perang
4)    Mengembangkan dan memperkokoh ekonomi rakyat
5)    Memperjuangkan penyelesaian Irian Barat

b.   Kabinet Sukiman (27 April 1951 - 3 April 1952)
1)   Menjalankan tindakan-tindakan yang tegas sebagai recana untuk menjamin keamanan dan ketertiban.
2)   Mengusahakan kemakmuran rakyat
3)   Mempersiapkan pemilihan umum
4)   Mempersiapkan undang-undang perburuhan
5)   Menjalankan politik luar negeri bebas aktif
6)   Memperjuangkan Irian Barat

c.   Kabinet Wilopo (3 April 1952 - 2 Juni 1953)
1)      Melaksanakan pemilihan umum
2)      Memajukan tingkat penghidupan rakyat
3)      Mengatasi keamanan dengan kebijaksanaan sebagai negara
4)      Melengkapi undang-undang perburuhan
5)      Mempercepat usaha perbaikan dan pembaharuan pendidikan dan pengajaran
6)      Melaksanakan politik luar negeri bebas aktif, menyelesaikan hubungan Uni Indonesia - Belanda atas dasar negara merdeka dan meneruskan perjuangan pengembalian Irian Barat

d.   Kabinet Ali Sastroamijoyo, 1 adalah sebagai berikut:
1)   Program dalam negeri, mencakup soal keamanan, pemilu, kemakmuran dankeuangan, organisasi negara, dan perundang-undangan.
2)   program luar negeri, meliputi pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif dan pengembalian Irian Barat

e.   Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 - 3 Maret 1956)
Kabinet Ali I digantikan oleh Kabinet Burhanuddin Harahap dari masyumi, dengan programnya sebagai berikut :
1)    Mengembalikan kewibawaan pemerintah
2)    Melaksanakan pemilihan umum
3)    Menangani masalah desentralisasi, inflasi dan pemberantasan korupsi
4)    Pengembalian Irian Barat
5)    Melaksanakan kerja sama Asia - Afrika berdasarkan politik bebas aktif

Prestasi yang menonjol dari kebinet ini adalah:
1)    Berhasil melaksanakan pemilu pertama bagi Indonesia
2)    Pembubaran Uni Indonesia – Belanda

f.    Kabinet Ali Sastroamijoyo 11 (20 Maret - 4 Maret 1957)
Program kabinet Ali Sastroamijoyo 11 adalah sebagai berik_-.
1)    Pembatalan KMB
2)    Pengembalian Irian Barat
3)    Menjalankan politik luar negeri bebas aktif.
4)    Meneruskan kerja sama negara-negara Asia Afrika dan melaksanakan keputusan-keputusan KAA di Bandung tahun 1955.

g.   Kabinet Juanda (9 April 1957 - 5 Juli 1959)
Kabinet A II digantikan oleh Kabinet Juanda. Program Kabinet Juanda dikenal dengan nama “Panca Karya” antara lain sebagai berikut :
1)    Membentuk Dewan Nasional
2)    Normalisasi keadaan politik
3)    Melancarkan pelaksanaan pembatalan KMB
4)    Perjuangan mengembalian Irian Barat
5)    Memperingati pembangunan
Kabinet ini berakhlr dengan dikeluarkan Dekrit Presiden 6 Juli 1959,
2.   Pemilihan Umum 1955
Pada tanggal 22 Agustus 1945 (Presiden mengumumkan bahwa sistem kepartaian RI adalah partai tunggal dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai satu-satunya organisasi politik di Indonesia, akan tetapi sistem ini tidak dapat dilaksanakan. Kemudian atas usul BP KNIP bahwa rakyat diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mendirikan partai politik, maka pada tanggal 3 November 1945 pemerintah mengeluarkan maklumat tentang pembentukan partai-partai Indonesia.
Berdasarkan maklumat yang ditandatangani oleh Wapres tersebut, terbentuk partai-partai politik sebagai berikut:
a.       Masyumi berdiri 7 November 1945 dipimpin oleh Dr. Sukiman Wiryosanjoyo
b.      PKI, berdiri 7 November 1945 dipimpin oleh Mr. Moh. Yusuf
c.       Partai Buruh Indonesia (PBI), berdoro 8 Nopember 1945 dipimpin oleh Nyono
d.      Partai Rakyat Jelata (PRJ), berdiri 8 Nopember 1945 dipimpin oleh Sutan Dewanis
e.       Partai Kristen Indonesia (Parkindo), berdiri 10 November 1945 dipimpin oleh D.S Probowinoto
f.       Partai Sosialis Indonesia (PSI), berdiri 7 Desember1945 dipimpin oleh Mr. Amir Syarifudin
g.       Partai Rakyat Sosial (PRS), berdiri 20 Nopember 9445 oleh Sutan Syahrir
h.      Partai Katolik Republik Indosia (PKRI), berdiri 7 Desember 1945 oleh I.J. Kasimo
i.        Persatuan Rakyat Marhain Indonesia (Permai), berdiri 7 Desember 1945 oleh J.B. Assa
j.        Partai Nasional Indonesia (PNI), berdiri 29 Januari 1946 dipimpin oleh Sidik Joyosukarto

Pemilu I setelah Indonesia merdeka baru dapat terlaksana pada tahun 1955, yaitu pada masa Kabinet Burhanuddin Harahap. Kabinet ini merupakan kabinet koalisi antara partai  Partai Masyumi, PSII, NU, PSI, Partai Katolik, dan Parkindo. Pemilu  I bertujuan untuk memilih anggota DPR dan anggota Dewan Konstituante. Pemilihan anggota DPR dilaksanakan pada tanggal 29 September 1955.. Pelantikan anggota DPR dilaksanakan pada tanggal pada tanggal 15 Desember 1955 dan dilantik pada tanggal 10 Nopember 1956.
Dalam pemilu I akhirnya muncul empat partai besar, yaitu Masyumi 57 kursi, PNI 57 kursi, NU 45 kursi dan PKI 39 kursi. Pemilu 1955 ternyata dapat berjalan dengan bersih dan tidak ada korban jiwa. Suasana demokratis yang dapat tercipta pada waktu itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia yang baru pertama kali menyelenggarakan pemilihan.
Akan tetapi pada kenyataannya pemilu yang sangat didambakan rakyat dapat membawa ke arah kemajuan, ternyata tidak mampu membawa kestabilan politik di Indonesia, sebab perselisihan antar partai tetap berlangsung, sehingga masalah-masalah parlementer sulit diselesaikan.
3.   Nasionalisme ekonomi
Masalah-masalah ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia setelah proklamasi cukup besar. Indone­sia mewarisi kondisi ekonomi yang sangat rancu dari pemerintah pendudukan Jepang.
Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
a.       Ketika menduduki Indonesia, Jepang menguras kekayaan alam Indonesia secara besar-besaran
b.      Perang Kemerdekaan memakan biaya yang cukup besar
c.       Perkebunan-perkebunan dan industri rusak berat
d.      Laju inflasi yang sangat tinggi, sebagai akibat beredarnya tiga mata uang sekaligus, yaitu uang uang de Javasche Bank, uang pemerintah Hindia Belanda, dan uang pemerintahan pendudukan Jepang.
e.       Adanya blokade ekonomi yang dilakukan oleh pihak Belanda

Akibat blokade pihak Belanda, pemerintah Indonesia akan kehilangan kepercayaan dari rakyatnya, sehingga memudahkan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.
Menghadapi kondisi ekonomi yang mengalami krisis tersebut, pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
a.       Pada bulan Juli 1946, Menkeu Ir. Surachman dengan persetujuan BP KNIP mengadakan pinjamanan terkumpul sebesar Rp. 500.000,00
b.      Pada tanggal 1 Oktober 1945, dikeluarkan UU No. 17 tahun 1946 tentang "Pengeluaran Oeang kertas Republik Indonesia (ORI) untuk menggantikan uang Jepang. Pada tanggal 25 Oktober 1946 dikeluarkan UU No. 19 Tahun 1946 tentang Penukaran Uang Jepang dengan ORI, dengan ketentuan sebagai berikut :
1)      Di Pulau Jawa Rp 50,00 uang Jepang disamakan dengan Rp 1.00 ORI
2)      Di luar Pulau Jawa dan Pulau Madura Rp 100,00 uang Jepang disamakan Rp 1,00 ORI
c.       Pada bulan Februari 1946 pemerintah melaksanakan konferensi ekonomi yang menghasilkan konsea sebagai berikut :
1)      Bahan makanan akan ditangani oleh Badan Pengawasan Makanan Rakyat, yang kemudian diubah menjadi Badan Persediaan dan Pembagian Makanan (BPPM)
2)      Untuk meningkatkan produksi, maka perkebunan akan diawasi langsung oleh pemerintah.
3)      Dibentuk Badan Perencanaan Ekonomi
4)      Menteri persediaan makanan rakyat I.J. Kasimo membuat Kasimo Plan yang berisi hal berikut :
-       ­Merrperbanyak kebun bibit dan padi unggul
-       Pencegahan pengambilan hewan pertanian
-       Tanah-tanah terlantar haus ditanami kembali, terutama di Sumatera
-       Pemindahan penduduk (transmigrasi) 20 Juta penduduk Jawa ke Sumatera dalam jangka waktu 10 - 15 tahun.
d.         Pelaksanaan program rekonstruksi dan Rasionalisasi (RERA), yaitu mengurangi beban negara dalam bidang ekonomi dan meningkatkan efisiensi angkatan perang.
e.         Mendorong para pengusaha swasta untuk ikut serta dalam perkembangan ekonomi nasional dan mengaktifkan kembali Persatuan Tenaga Ekonomi (PTE), PTE merupakan wadah pengusaha swasta, yang dibentuk sejak zaman Jepang.
f.          Gabungan perusahaan perindustrian dan perusahaan penting, pusat perusahaan tembakau Indonesia, Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) diaktifkan Kembali dalam rangka menegakkan ekonomi Indonesia.
Langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia tersebut ternyata berhasil mengatasi krisis ekonomi Indonesia. Apalagi secara ekonomi Konferensi Meja Bundar yang selenggarakan di Den Haag sangat merugikan pihak Indonesia sebab utang-utang Hindia Belanda dibebankan kepada Pernerint RIS. Dalam kondisi ekonomi yang semakin parah ini masyarakat mendambakan pembangunan ekonat nasional yang bebas dari gejolak ekonomi dunia. Kemudian pemerintah mengambil aingkah-langq perbaikan ekonomi dengan be,rbagai kebijakan sebagai berikut.
1)  Gunting Syafrudin
Untuk mengatasi defisit anggaran dalam upaya mengurangi peredaran uang, Menkeu Syafrudin mengambil tindakan memotong uang dengan memberlakukan setengahnya untuk mata uang bernilai Rp 2,50 ke atas yang kemudian dikenal dengan istilah Gunting Syafrudin. Di bidang perdagangan luar negeri, Pemerintah mengambil langkah mengeluarkan  peraturan ekspor yang dilakukan dengan sertifikat devisa. Guna meningkatkan ekspor nilai tukar rupiah diubah menjadi Rp 7,60 setiap satu dolar untuk ekspor, dan Rp 11,80 setiap satu dolar untuk impor. Pecahnya perang Korea pada bulan Mei 1950, mengakibatkan ekspor Indonesia meningkat menjadi 243 % atau bernilai  115 juta dolar. Peristiwa ini dikenal sebagai Korea Boom.

2)  Sistem Ekonomi Gerakan Benteng
Memasuki tahun 1951 keadaan ekonomi Indonesia tidak berambah baik melainkan bertambah merosot, faktor-faktor yang menyebabkan kemerosotan antara lain sebagai berikut :
a)      Pendapatan pemerintah berkurang akibat menurunnya perdagangan internasional
b)      Ekonomi nasional terlalu tergantung pada ekspor hasil perkebunan
c)      Belum berkembangnya sektor produksi lain, seperti industri dan perdagargan
d)      Keamanan dalam negeri belum mantap
e)      Instabilitas politik
f)       Politik keuangan RI dibuat di negeri Belanda
Untuk mengatasi keadaan ekonomi yang terns merosot, Soemitro Djoyohadikusumo, Menteri perdagangan pada masa Kabinet Natsir berpendapat bahwa di Indonesia harus segera ditumbuhkan kelas pengusaha. Sumitro kemudian dikenal dengan Gerakan Benteng (Benteng Group). Langkah yang diambil Sumitro dalam membangun ekonomi nasional yaitu dengan memberi bantuan kredit kepada pengusaha Indonesia yang pada umumnya bermodal lemah. Diharapkan secara bertahap pengusaha yang lemah akan berkembang maju, sehingga upaya mengubah struktur ekonomi kolonial menuju struktur ekonomi nasional akan terwujud. Mulai bulan April 1950 hingga tahun 1953 sekitar 700 pengusaha pribumi (Indonesia) mendapat kredit dari program Gerakan Benteng tersebut. Dengan berpedoman bahwa para pengusaha pribumilah yang dapat membangun perekonomian nasional, maka Gerakan Benteng ini adalah kebjiakan untuk melindungi pengusaha pribumi agar dapat berpacu dalam mengembangkan ekonomi nasional.
Tujuan dari program Gerakan Benteng antara lain sebagai berikut :
a)      Menumbuhkan dan membina wiraswasta Indonesia sambil menumbuhkan ekonomi nasional.
b)      Mendorong importir-importir nasiora hingga mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan impor asing
c)      Membatasi impor barang-barang agar memberikan lisensi impor hanya kepada importir Indonesia
d)      Memberikan bantuan dalam    bentuk kredit kepada importir Indonesia.
Pada kenyataannya program ini gagal mencapai tujuannya, sebab pengusaha pribumi terlalu tergantung kepada pemerirtar dalam mengembangkan usahanya. Bahkan banyak diantara mereka yang menyalahgunakan kebijakan pemerintah tersebut dengan mencari keuntungan secara cepat dan kredit yang mereka peroleh. Walaupun demikian pemerintah tetap berupaya untuk mengembangkan  pengusaha pribumi.


3)   Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia
Pada masa kaniet Ali Sastroamijoyo (31 Juli 1953 s/d 12 Agustus 1955). Kabinet ini  berusaha untuk mengatasi krisis moneter dengan cara mealkukan nasionalisasi yang terjadi adalah sebagai berikut :
a)    Dibentuk Panitia Nasionalisasi De Javasche Bank pada tanggal 19 Juni 1951 berdasarkan Keputusan Pemerintah No. 118 Tahun 1951 tanggal 2 Juni 1951.
b)    Panitia Nasionalisasi bertugas mengajukan usul rencana nasionalisasi kemudian pemerintah trengangkat Mr. Syafrudin Prawiranegara sebagai Presiden De Javasche Bank berdasarkan Kepres RI No. 123 Tahun 1951 tanggal 12 Juni 1951.
c)    Tanggal 15 Desember 1951 diumumkan UU No. 14 Tahun 1951 tentang Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia, yang pada akhirnya berfungsi sebagai Bank Sentral dan Bank Sirkulasi.
      Dalam rangka menaikkan pendapatan, pemerintah Indonesia berupaya menurunkan biaya ekspor dan melakukan penghematan secara drastis

4)   Sistem Ekonomi Ali-Baba
Pada masa Kabinet Ali Sastroamijoyo (31 Juli 1953 s/d 12 Agustus 1955). Menteri Perekonomian Mr. Ishaq Cokrohadisuryo memprakarsai sistem perekonomian yang dikenal dengan sistem Ekonomi Ali Baba. Ali digambarkan sebagai pengusaha pribumi sedangkan Baba adalah pengusaha non­pribumi (China). Untuk memajukan ekonomi pengusaha, para pengusaha nonpribumi harus bekerja sama dengan pengusaha pribumi dan selanjutnya pemerintah memberikan bantuan kredit kepada pengusaha pribumi. Pada kenyataannya sistem berpengalaman dan hanya dijadikan alat oleh pengusaha nonpribumi untuk mendapatkan kredit dari pemerintah.

5)   Persetujuan Finansial Ekonomi (Finek)
Pada masa pemerintahan Kabinet Burhanudin Harahap (12 Agustus 1955 s/d 3 Maret 1956) Indonesia mengirimkan delegasi ke negeri Belanda guna merundingkan masalah finansial ekonomi dengan pemerintah Belanda. Hasilnya pada tanggal 17 Januari 1956 tercapai rencana persetujuan Finek, yang antara lain berisi hat berikut:
a)       Persetujuan Finek dan hasil KMB dibubarkan
b)       Hubungan Finek Indonesia - Belanda didasarkan atas hubungan bilataral
c)       Hubungan Finek didasarkan atas UU Nasional tidak boleh diikat oleh perjanjian lain
Persetujuan ini tidak diterima oleh pemerintah Belanda, sehingga pemerintah Indoneia mengambil langkah sepihak dengan membubarkan Uni Indonesia - Belanda pada tanggal 13 Februari 1955  untuk melepaskan diri dari ikatan ekonomi dengan Belanda

6)   RPLT Munap
Pada masa Kabinet Ali Sastroamijoyo II (20 Maret 1956 - 4 Maret 1957) pemerintah membentuk suatu badan perencanaan pembangunan nasional yaitu Biro Perancang Negara, Ir. H. Juanda sbagai Menteri Perancang Nasional berhasil membuat Rencana Pembangunan Lima tahun yang berjalan tahun 1956 - 1961. Pada saat kabinet Juanda terbentuk (9 April 957- 5 Juli 1959) keadaan ekonomi Indonesia sangat buruk, sehingga pemerintah mencari jalan keluar dengan menyelenggarakan Musyawarah Nasional Pembangunan (Munap). Akan tetapi pada kenyataannya langkah ini ternyata tidak mengubah keadaan. Selain itu RPLT juga tidak dapat dilaksanakan. Penyebabnya antara lain sebagai berikut :
a)      Daerah-daerah menempuh kebijakan sendiri-sendiri
b)      Daerah di luar Jawa banyak yang melakukan barter langsung ke luar negeri
c)      Harga barang ekspor menurun
d)      Timbulnya ketergantungan antara pusat dan daerah

4.   Gangguan Keamanan dalam Negeri 3
Dalam upaya menegakkan kemerdekaan bangsa Indonesia tidak hanya mengharapkan dari kekuatan asing yang meliputi Sekutu dan NICA, tetapi juga menghadapi berbagai ancaman dalam negeri tersebut. Beberapa gangguan keamanan dalam negeri antara lain sebagai berikut :
a.      Pemberontakan DI/TII
Pemberontakan DI/TII pada mulanya terjadi di daerah Jawa Barat di bawah pimpinan Kartosuwiryo ia memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949. Gagasan Kartosuwiryo mendirikan Negara Islam muncul sejak tahun 1942, ketika mendirikan pesantren Sufah  di Malangbong, Garut, Jawa Barat. Setelah terjadi agresi Militer Belanda I tahun 1947, Kartosuwiryo menyatakan perang fisabililah melawan Belanda. Pasukan Hisbullah dan Sabilillah dijadikan Tentara Islam Indonesia (TII). Dalam konferensi di Cisayong bulan Februari 1948 diputuskan untuk mengubah gerakan yang dipimpin Kartosuwiryo diangkat sebagai imam dari Negara Islam Indonesia. Dengan ditandatanganinya persetujuan Renville, pasukan TNI harus hijrah dari Jawa tengah ke Jogjakarta, akan tetapi Kartosuwiryo beserta pasukannya tetap tinggal di Jawa Barat. Setelah Pasukan Divisi Siliwangi hijrah, Kartosuwiryo lebih leluasa melaksanakan gerakannya.  Pda saat pasukan Devisi Siliwangi kembali dari Jawa Tengah dalam usaha melakukan perang gerilya terhadap agresi Militer II yang dilancarkan oleh Belanda, mereka menjumpai kesatuan-kesatuan bersenjata yang menamakan dirinya Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Kesatuan bersenjata tersebut berusaha menarik TNI agar ikut bergabung dan menghalang-halangi Pasukan Divisi Siliwangi kembali ke Jawa Barat, akibatnya pertempuran tidak dapat dielakkan.
Dalam usaha menyelesaikan perlawanan DI/TII, pemerintah melakukan pendekatan melalui pemimpin Masyumi Muh. Natsir untuk mengajak dan membujur agar  kembali ke NKRI, tetapi tidak berhasil. Akhirnya pemerintah terpaksa melakukan perang Bharatayuda di bawah pimpinan Jenderal Nasution.
Dengan taktik pagar betis akhirnya pada tanggal 4 Juni 1962  DI/TII Kartosuwiryo dapat ditangkap di daerah Gunung Geber , Majalaya, Jawa Barat  oleh pasukan Siliwangi dan dihukum mati oleh pengadilan militer pada tanggal 16 Agustus 1962. Pemberontakan DI/TII juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia, di antaranya sebagai berikut:


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar